Ada kalanya, berpuisi hanya menuliskan kata-kata yang entah bermakna apa. Hanya rasa-rasa, hanya kira-kira. Tapi –sungguh!– ia penuh makna. Jangan bertanya kenapa aku memasang gambar kerlip cahaya di malam gulita untuk puisi ini.
Mencinta Tak Sebebas Cinta
Telah terjarak waktu
engkau mengulas-ulas senyum,
menggaduh pendaman rinduTak terjarah waktu
engkau meronta-ronta kuda
menggeliat basah menungguAh, goda itu tak juga biasa
sebab mencinta ternyata
tak sebebas keliaran cintaJ. Rizal, Mei 2007





3 Tanggapan
19 Mei 2007 pukul 12:07 pm
wah.. kayaknya menikmati banget hidup dlm dunia sastra yah..
btw itu puisi untuk siapa yah?? dia?? Dia?? dIa?? atau diA??
21 Mei 2007 pukul 8:38 pm
Saya juga pernah menuliskan pengalaman saya tentang puisi begini : http://herianto.wordpress.com/2007/03/28/puisi-1/
Salam kenal ya..
7 November 2009 pukul 12:32 am
slam knall jgaa eaa .. ndd puisi ndd ktaa”a kreend bgd ..