Ada saja yang tak sesuai rencana. Semestinya tahun ini aku kembali ke kampus untuk kuliah. Bukan S-2, tapi aku mau ambil S-1 lagi, ekonomi atau hukum, walaupun sudah menamatkan S-1 pada 1998.
Yang terjadi malah sebaliknya –aku kembali ke kampus untuk menjadi dosen. Salah satu perguruan tinggi swasta di kotaku membuka mata kuliah baru, menulis jurnalistik. Dan, aku didaulat kantor untuk mengisi kuliah itu, tentu setelah menerima permintaan resmi dari perguruan tinggi itu.
Bukan cita-cita saya menjadi dosen walaupun tamat S-1 pendidikan dan pernah mengajar. Aku hanya beberapa kali menjadi penyampai materi –aku risih dengan sebutan pembicara karena tak begitu pandai aku berbicara—berbagai lokakarya atau workshop jurnalistik.
Nah, sudah dua kali pertemuan aku masuk kampus: perkenalan dan pengenalan materi kuliah selama satu semester ini.
Di salah satu kelas, ada yang bertanya kira-kira begini: Bapak tidak bercita-cita menjadi guru, lalu sekarang mengajar kami, bagaimana ini? Berarti Bapak setengah hati dong mengajar?
Duh, hari pertama sudah diteror seperti ini.
Saya jelaskan: Seseorang di masa kecil mungkin bercita-cita menjadi dokter –bukan guru. Ketika besar, dia menjadi penulis atau jurnalis dan memiliki ilmu di bidang itu. Ketika ada yang memintanya untuk berbagi ilmu, apakah dia akan setengah hati?
Saya tegaskan bahwa saya tidak begitu. Saya merasa senang juga bisa berbagi ilmu dengan orang lain. Yakinlah.




1 Komentar
1 April 2008 pukul 6:18 pm
walah….situ dosen? baru tau, heheheh….