
Bung Karno bersama Fatmawati dan Guntur. Dalam caption (keterangan foto) berbahasa Inggris itu disebutkan bahwa Fatmawati isteri kedua. Sumber foto: Wikipedia
Hanya beberapa jam setelah matahari 2009 nongol di langit Indonesia pada 1 Januari lalu, aku dan beberapa rekan berada dalam perjalanan ke Bengkulu. Selepas Sarolangun (Jambi) dan Lubuk Linggau (Sumsel), di antara gerimis kami melintasi dinginnya kawasan pertanian di Rejang Lebong dan Kepahiang.
Nyaman sekali rasanya melintasi jalan-jalan berliku dan berhutan di punggung Bukit Barisan itu. Sejuk dan adem, seperti berada di kaki Gunung Kerinci, tempat kelahiranku. Selepas senja kami memasuki Bengkulu, kota kelahiran Fatmawati, isteri ketiga Bung Karno (BK).
Bincang-bincang soal BK, kami sempat mampir ke rumah yang ia diami semasa diasingkan pada kurun waktu 1938-1942. Kagum aku melihat kecantikan Fatmawati muda dalam foto bersama Bung Karno dan isteri keduanya, Inggit Garnasih. Ibu Negara RI pertama itu tampak menggemaskan.

Foto baru dan foto lama rumah pengasingan Bung Karno di Bengkulu.
Terletak di pusat kota, rumah bersejarah itu masih terawat, kecuali beberapa barang di dalamnya, seperti buku-buku bacaan BK yang dibiarkan berdebu dan melapuk. Sayang sekali, padahal buku-buku itu kini tentu saja semakin sulit didapat.
Maka, bertanyalah kami ke penjaga di rumah pengasingan Bung Karno itu, siapa di antara anak Fatmawati-BK yang sering berkunjung ke rumah itu. Jawabannya adalah: Sukmawati dan Guruh. Gempar juga sering ke sana.
Menurut sejarah, Gempar adalah anak BK dengan Jetje Langelo, wanita asal Manado, yang “disembunyikan” atas amanat BK sendiri. Baca kisahnya di sini (1), (2) dan (3). Versi lain silsilah keluarga BK –tanpa Jetje– dapat dilihat di sini atau gambar silsilah yang ini saja. Banyak sekali isteri BK, ternyata….
Bagaimana dengan Megawati, apakah ia sering ke rumah pengasingan BK itu? Sang penjaga tidak tegas mengatakan tidak. Dia hanya menyatakan lagi bahwa yang sering ke situ adalah Sukmawati, Guruh dan Gempar.
Apakah karena Mega jarang ke situ maka suara PDI Perjuangan di setiap pemilu selalu anjlok di Bengkulu? Entah juga. Merujuk sejarah, semestinyalah Mega lebih dekat dengan rakyat Bengkulu, terlepas mau jadi presiden (lagi) atau tidak.




& Komentar
6 Januari 2009 pukul 4:36 pm
Politik sudah mengarah ke Marketing, sehingga dalam menentukan STP, dipilihlah Target yg paling potensial dan Positioning yang menguntungkan kandidat. Sehingga mungkin, Bengkulu tidak menarik bagi tim pemenangannya Ibu Mega.
(Jalan2 terus nih….)
10 Januari 2009 pukul 11:43 am
paling gak ingat….
bg ni kucoba link kembali ya blognya di blogger jambi…
11 Januari 2009 pukul 8:32 pm
@ Budhi>> setuju. sudah barang tentu partai-partai dan capres lebih senang menggarap pulau jawa tinimbang sumatera. bayangkan saja, mata pilih satu pulau sumatera saja ternyata tidak lebih banyak dari mata pilih satu provinsi Jawa Barat. apalah artinya bengkulu, ya?
@ thevemo>> thanks, vem, atas upayanya.
20 Januari 2009 pukul 9:18 am
Bang, minta….Minta dibuatkan review utk Partai2 dan Capres & Cawapres yg sehat….Heheheh….emang pada sakit ya…
9 Oktober 2009 pukul 6:24 pm
npa minta???
g bsa bwt ndiri yaa???
16 Maret 2009 pukul 3:30 pm
bagus, tapi apa benar Ir.soekarno pernah menikah dengan orang bengkulu? dan juga kalau Ir. soekarno pernah menikah dengan orang bengkulu tempatnya dimana?!tolong jawab dengan lengkap