puisi-puisi cinta j. rizal

Pada Rindang Kamboja

“Pergi, dan jemputlah cahayamu!”
pada tiap pintu ia bertemu para penjaga yang selalu bertanya
tentang sejarah, lalu memberinya selembar tiket untuk
pulang dan istirah

Saat kembali, ia menyaksi orang-orang telah menulis
berbaris-baris puisi di sepanjang jalan
tangan-tangan rindu melambai menggamitnya
“Selamat siang bidadari. Hari ini gaun putihmu terlalu indah!”

Di sebuah taman ia pun berhenti
menyalami cericit jahil gelatik kecil yang riang bernyanyi
“Bulan kembali, pasang kembali
Lihat, daun-daun merendah hati!”
sejenak ia menjamah setangkai mawar
dan membawa wanginya ke bawah rindang kamboja

“Pergilah, lalu kembalikan cahayamu!”
ia mendengar suara itu kembali dari sebuah ruang
entah dimana
tapi berjuta cerita di bening bola matanya
untuk siapa ia bawa pulang?

Juli 1999-Januari 2001
(dari http://www.cybersastra.net; Senin, Maret 05, 2001)

Jeda di Sebuah Terminal Bayangan

Jadi, ia telah tertinggal
di terminal bayangan ini?
pantas duduk diamnya menjelma batu
dilulur taburan debu


Di terminal ini ia benar
mengenal bayangan;
lusuh langkah kecil
curam jurang remaja

dan gelisah sungsang usia
ketika engkau menyurukkan diri

di tengah keramaian suatu pasar
pada onar lorong-lorong siang
menjajakan cinta, bercucuran


Jadi, ia telah terkulai
di terminal bayangan ini?
pantas tebaran debu pergimu
begitu liar menjejak di wajahnya

(dari http://www.cybersastra.net; Rabu, Juli 18, 2001)

Ia dan Seseorang Mengaji Jazad

Ada luka yang ia pasakkan
tangis yang ia deraikan
ketika sunyi berkaca
menganyam geram
rindu musim kamboja

Ada anak-anak mengaji jazad
berdoa mengutip kitab filsafat
”Kemunafikan telah membantainya
di tengah keramaian;

Menebalkah wajahnya ya, Allah
ketika orang-orang mengerubung
lunglai tubuh telanjang ini?”

Malam yang dingin
sesak yang ia sumbatkan
luluh yang ia lantakkan
ketika gigil layu lidahnya
memungut gerai luruh dedaunan

(dari http://www.cybersastra.net; Rabu, Juli 18, 2001)

Betina, Matilah tanpa Rangka

Ayo, betina. Merentang sayap di malam buta
mata berkaca-kaca, tangis mengada-ada
diam menikmati neraca jiwa

Engkau betina, mana taman yang kau sapa?

Wahai, betina. Tabir malam hotel berbintang
lengang terlena-lena, lunta berkata-kata
tapi jatuh bangun di kaki lima

Engkau betina, matilah tanpa rangka!

Ayo betina. Naikkan kuda-kuda jaga
bercinta meliuk-liuk daun luruh
angin jatuh, pagi bangun kesiangan

Engkau betina, mati benar tanpa rangka

Juli 2001
(dari http://www.cybersastra.net; Minggu, Agustus 05, 2001)

Danau, Telaga dan Pagar Menyemak

Danaumu yang ranum, kemana air mengalir?
aku rindu mengisapnya seperti musim panas
mencucut-cucut rumput, ilalang, dan bunga siang
haus bangun tinggi hari. Takdir apa?

Ada pagar tumbuh di tengah semak taman
anggur meracuni rusuk rasa, tanpa tidur
tanpa mimpi rama-rama dan musim bercinta
tahu apa ia tentang embun dan kedinginan?

Telagamu yang harum, kemana jernih mengabur?
aku rindu menggiringnya dengan jaring angin
memilah-milah lumut, belalang, dan capung angin
airmata riak bergolak. Sesak apa?

Pagar itu tumbuh kasar dan menyemak

Merasuki tidur, menggerayangi angin dan mimpi
menjadi hujan dan berduri. Tahu apa ia tentang
danau dan telagamu yang tak lagi membiru?

Juli 2001
(dari http://www.cybersastra.net; Minggu, Agustus 05, 2001)

Pohon-pohon Tertinggal

Pohon-pohon tertinggal di kegelapan
tangan-tangan setan berlambaian

Aku bersandar di pelukan angin
pada embun daun jendela
hujan memberitakan kepergian
bersama dendam semalaman

Pohon-pohon tertinggal menceritakan
desau-desau daun berguguran

November 2001
(dari: http://www.bumimanusia.or.id; 27 Januari 2002 – 14:52)

Doa dan si Tua Kafir

Mencium sisa sujudmu, ada doa berdusta
ia bercerita tentang luka dari sorga
angin panas dan kerontang suatu siang

Tuhan, katanya, tak pandai lagi meramal

Ia hanya menunggang kuda dan melempar laso
liar seperti Zorro atau koboi Marlboro

Hei! Aku punya cerita dari kitab lama
seorang tua berkaca pada sajadahmu
berlutut dan menemukan matanya penuh nanah
ia saksi kekaburan; Ia bangkit dari kubur

Lalu ia menunggangi anaknya dengan sihir
berlindung pada takdir, tapi ia si tua kafir!

Juli 2001
(dari http://www.cybersastra.net; Minggu, Agustus 05, 2001)

Tepian, Air Mata Pusara

Tepian ini, jernih airnya
memantul sinar di wajahmu
saat memungut daun hanyut
lentera jatuh ke kali
: aku melihat raut bulan kusut

Menerawang geram ke hilir
gelap menyapu sudut mata
menyisir liar ke hulu
riak memercik di dahi
: aku melihat raut bintang remang

”Saputlah air mata,
kita kembali ke huma
pondok kecil dan bara menyala
menyalai seiris daging”

Suaramu seperti malam jenuh
seperti arang aku rapuh
menggiringmu tinggalkan tepian
tak ingat daging panggangmu
menyusup ke huma dan pulas
: aku melihat ilalang bergoyang

Airmata, oh, airmata
ia menjelma igauan senja
sepanjang malam, seluruh tidur
lebur dalam gambar-gambar liar
seseorang menegur dengan kasar
: aku melihat ranjang berdarah

”Urungkan duri dan sangsi
kita berjalan malam ke hulu
menunggui mata air airmata
hingga tumbuh kamboja
lalu kita kembali ke tepian”

Isakmu seperti giris di pusara
tapi entah kapan mulut berkata
aku bersandar di batu dan berdusta
: aku melihat bintang di kakimu
masih dengan remang semula

Juli 2001
(dari http://www.cybersastra.net; Minggu, Agustus 05, 2001)


Di Langit Ada Darah

Aku hanya mengutang kata-kata
kucabut dari lacimu yang usang
menjelma darah muncrat ke angkasa
angin tersendat di daun gersang

Menatap matahari setengah siang
debu dan awan saling lingkar
menyanyikan air mata liar
dari darah tanpa kata-kata sayang

Juli 2001

Kematian Ini Terlalu Lamban, Kekasihku

Engkau tahu, aku memulai karangan
ini dengan tangis memilukan, kekasihku
atas jarum-jarum halus yang menyusup
kedalaman entah untuk berapa lama
hujan yang menghentak di jiwa
menjatuhkan
embun dedaunan
menghilang sesaat di pangkuanmu

Lalu kematian datang diam-diam
datang begitu lamban, kekasihku
hilang satu rajutan jatuh dari pegangan
jatuh begitu lamban, kekasihku

Engkau tahu aku memulainya dari airmata
kurajut dari sutra yang usang
dari waktu yang tak berbatas kata-kata
tak berbatas, entah keresahan siapa
malam yang terhenyak di ranjang
menidurkan mimpi-mimpi kosong
tentang pangkuan hilangmu

Dan kematian tergambar begitu
indah atas keindahan bersamamu, kekasihku
sketsa tahun berlalu, tahun ini
sesaat dalam pelukanmu sia-sia

Kekasihku, kematian ini terlalu lamban
aku yang mengoyak surat suci
yang tertoreh di dadamu sedari pagi
masih menganyam kedinginan dalam
keramain motif gulitamu
menjelma cabikan perenungan

Tuhanku, kekasihku, lihatlah ke dalam
kerusuhan lubuk-lubuk cinta kita
kematin ini datang begitu lamban!
kekasihku, zamrud gemerlap di matamu
jangan tikamkan kebencian

September 2001
(dari: http://www.bumimanusia.or.id; 27 Januari 2002 – 14:54)


Malam di Kotamu, Aku Muak

Melintasi malam di kotamu
perang berdentum garang
kabarkan kerusuhan
parasangka dan prahara
ranjang berderak;
barak-barak percintaan hanya puing
tangis menjadi asap
pengungsi lusuh;
rambutmu terikat di tiang gantungan

tangan-tangan menekan leher
hingga tunduk berlutut
pada mata dendam berdebu

Oh!

Kotamu di kala malam terlalu jalang
angin mengibas semak gedung-gedung
buram dan gersang

Dan kau diam menjadi budak
(tangan-tangan itu terlalu kasar
merengut kesucian air matamu)

Muntahkan, kekasihku!
aku muak mendengar tangis iba ratapan
belenggu pertempuran

pergulatan di atas nisan keberanian

Sarolangun-Kerinci, Februari 2002
(dari http://www.bumimanusia.or.id; 18 Februari 2002 – 00:08)

Iklan

32 thoughts on “puisi-puisi cinta j. rizal

  1. mantep puisi2 cintanya …./me numpang baca ya mas lumayan buat ngobat rindu hiks 😦
    posting terus mas, /me siap baca tapi jgn sukar2 ya bahasanya heheheh… maklum dah lama ngak balik indo – c u

  2. PUISI YAHOO
    WE INVITE YOU…!
    SILA JOIN KAMI.
    SILA GABUNG…
    http://groups.yahoo.com/group/puisi/

    Kami menjemput anda untuk menyertai ruang PUISI YAHOO ini.
    Sila DAFTAR dan JOIN ruang PUISI YAHOO kami.

    Marilah sama2 kita kumpulkan semua tulisan BULLETIN seni atau..karya puisi cinta, puisi apa2 sahaja atau…kata2 hikmat-pujangga, cerpen (cerita pendek), cerita humor atau tulisan curahan hati kita … ATAU KARYA SESIAPA SAHAJA ….( dalam bahasa melayu atau bahasa indonesia ) …untuk dikumpulkan, disimpan dan dimuatkan didalam ruang PUISI YAHOO ini.

    Semoga kita semua sama2 dapat berkarya dan juga sama2 dapat berkongsi membaca …sambil menghayatinya….

    Sekian.
    Terima kasih.
    http://groups.yahoo.com/group/puisi/

    p.s.
    Please tell and invite all your friends!

  3. Om, di cybersastra loginnya apa dulu? Om, cybersastra ga bisa diakses lagi….

    Salam kenal Om, aku dah cukup senang menemukan jejak orang-orang yang pernah singgah di cybersastra.net. Setidaknya, puisi-puisi Om sedikit mengobati kerinduan pada fordis cybersastra.

  4. Terima kasih om…
    puisinya bagus banget, numpang baca ya
    mudah-mudahan bisa mengajari saya untuk berkarya

    keep posting om

  5. Inginkah kau rasaku

    malam ini kusendiri….
    seperti malam yang sudah – sudah kita lalui berdua….
    malam ini kusendiri….
    kau tak ada disampingku….
    angin yang kencang sengaja ntuk menemani sepiku….
    dan kupinta…….
    aku hanya ingin mencurahkan rasaku sepanjang waktu yang kumiliki,…
    dan biarkanlah dia disini ntuk mewakili sukmaku …menuju kebebasan…
    beban yang kadang menimpa lamunanku tanpa permisi menghimpit ragaku…………

    created by ” dedy cristian tarigan “

  6. Bagus banget maz…oya aq numpang nulis puisi ya?????

    Selamat datang sepi
    nikmatilah hidupku sepuasmu
    robek hati ini dengan
    cakar-cakar tajammu
    tikam jantung ini dengan
    belati terasah yang kau miliki
    lalu campakkan jika
    kau bosan dengan hidupku.
    (This poem writed by anggraeni for Raditya Dwi Marta)

  7. ku tlah temukan cahaya
    hanya titik kecil bisu
    tapi kuasa terangi hatiku

    ku genggam erat…
    kuat…
    tak berniat aku tuk lepaskan

    tapi gulita datang
    seketika gelapkan cakrawala
    terkejut hatiku
    mana…mana cahayaku
    dia lepas…hilang
    tak tau kemana…

    cahayaku…kembalilah…
    jangan hiraukan gulita
    aku membutuhkanmu
    jangan tinggalkan hatiku
    dalam gelap yg mencekam ini

  8. Suatu malam kata melentik,
    di tiap derit-derit malam.
    Lalu meredam,
    karena takut tersesat di istana kelam.
    Lantaran, sang empunya melebarkan mata-matanya
    berusaha mengejar para tawanan kata.
    Sedang para tawanan mengendap-endap,
    menyusuri celah lorong-lorong
    memporaporandakan tatanan malam
    mencuri perabot-perabot malam
    dan menjebol jeruji-jeruji tahanan malam
    hingga memecah mendung di kejauhan relung.

  9. puisi-puisinya bagus banget. jadi kangen masa-masa kuliah dulu, sering ke perpus cuma untuk baca puisi-puisi sastrawan dulu kaya wiratmadinata, yvonne de fretes, dll..

  10. Ma’af sebelumnya. Boleh saya tahu kemana juga tulisan-tulisan saya yang hilang di cybersastra. Masih bisakah diselamatkan.

  11. Langit Malam , sendal jepit

    Angin menusuk tulang , terasa nyeri sampai ke
    hulu hati.
    Hidup bagaikan sendal jepet ,tak terbeli sambung
    lagi……………….hidup tak pernah mati …….hanya
    tunggu ……..tiupan …sangkakala.

    Gandaria ,30 .11.09
    Qthara

  12. DERITA Q

    sendiri Q di sepi’y malam
    bersma riang rembulan
    berteman angin malam
    angan Q jauh melayang
    entah apa yang ada
    dalam pikiran Q saat ini
    tak seorang pun
    yang dapat mengertikan Q

    perkra demi perkara
    datang menghantui Q
    tak sanggup rasa’y
    Q memikul smua’y
    Q coba lari
    dari kenyataan ini
    namun,tak sedikit
    perkara menyingkir

    tman,yg Q anggap
    pahlawan
    kini,tak ada yang
    bisa di andalkan

    sahabat,
    yg kian melekat dihati
    kini pergi,
    meninggal kan Q

    sangpujaan hati
    tempat Q berpaling
    tuk sgala’y
    tak sedikit pun
    dapat mengobati
    luka ini

    ingin rsa’y pergi
    dari muka bumi
    tuk mengubur dalam
    derita ini,slama’y

    Oh Tuhan kuatkan lah
    dinding hati Q
    dan buat kan lah
    kapas dalam hidup Q
    kelak,Q dapat memikul
    derita yg Q alami

  13. Ping-balik: 2010 in review (Catatan dari Wordpress) |

  14. hm… dulu juga pernah jadi member cybersastra… tp kayaknya sekarang udh gk ada lagi…. jd balik masa-masa kuliah…

    thaks ya bang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s