Satu Cerpen: Stetoskop

Sejak kecil Samin ingin memegang stetoskop. Tetapi sepanjang usia hidupnya tidak sekalipun dia benar-benar pernah melihat sahabat akrab para dokter itu.

“Stetoskop. Ini dia.” Samin ingat telunjuk gurunya semasa di SD mengarah ke gambar sebuah benda dengan dua selang kecil bercabang. Demikian secuil keterangan yang ia dapat. Setelah itu tidak pernah dia memiliki waktu untuk melihat benda itu lagi. Dia tidak pernah sakit sampai lulus SD, lalu “dikirim” ke bukit untuk berladang.

Di bukit sama sekali tidak ada dokter. Tentu saja karena tempat mukim Samin bukan perkampungan. Di bukit, bersama ayahnya, dia membuka perladangan baru. Kalau pun dia pernah terluka oleh parang, tidak pernah dia dibawa ke dokter atau puskesmas. Ayahnya hanya akan menempelkan pucuk-pucuk daun kayu manis yang sudah digigit dan bergetah-getah di lukanya, sebesar apa pun luka itu menganga. Bila darah terus mengucur, ayahnya akan mencabik bagian bawah kaus dalam putihnya yang menguning untuk pengikat bagian luka.

Begitulah bertahun-tahun hidupnya.

Memang, paling tidak, sekali dalam dua tahun mereka akan pulang ke dusun untuk waktu yang agak lama. Itu hanya bisa dilakukan dua hari sebelum Lebaran Idul Fitri atau Idul Adha. Tapi Samin tidak pernah sakit selama turun (versi orang kota: mudik) Lebaran. Perubahan cuaca di bukit dan di dusun sama sekali tidak berpengaruh padanya. Badannya selalu sehat, tegap, berotot lagi.

Suatu waktu, saat di bukit, dia pernah berpura-pura sakit parah. Badannya memang sudah menggigil tapi berkeringat: Demam panas. Tetapi ayahnya memberi Samin sebungkus serbuk pahit. Tubuhnya langsung bekeringat dan panas badannya pun turun seketika. “Bawa bergerak, jangan diam di bilik,” ujar ayahnya menasihati. Samin menurut. Dia keluar dari kamar yang pengap dan menuju belakang rumah. Dia mengayunkan kapak untuk memotong dan membelah batang-batang kayu keperluan memasak. Keringatnya mengalir kian deras dan sakitnya hilang.

Pernah pula, saat di dusun, dia jatuh di sungai karena terpeleset di batu. Punggungnya nyeri dan dadanya sesak sampai-sampai ia hampir tidak bisa bernapas karena saat jatuh dadanya teremban ke batu. Dia pulang sempoyongan sambil memegang dada. Orang-orang di rumah hanya mengorder seorang tukang urut untuknya. “Ada setan air menyapa,” ujar tukang urut yang juga dikenal banyak orang sebagai dukun. Dan, anehnya, setelah “setan” itu diusir, tubuhnya terasa lebih baik. Sesak di dadanya hilang dan sakit di punggungnya pun tak terasa lagi.

Gagal lagi dia bertemu dokter dan stetoskopnya.

Stetoskop. Dia hapal sekali namanya. Dia yakin, walau pernah berobat ke dokter, ayahnya tidak pernah tahu nama alat itu.

Samin selalu ingat saat gurunya di kelas empat SD memperlihatkan gambar benda itu semasa ia masih sekolah. “Dengan alat ini dokter bisa mendengar detak jantung orang.” Ia ingat gurunya memberikan sedikit keterangan lagi. Caranya, masing-masing cabangnya dipasang di telinga dokter, sedangkan ujung tunggalnya di dekatkan ke dada orang yang diperiksanya. Tetapi Samin tidak pernah mendapat kesempatan melihat langsung wujud stetoskop. Entah mengapa, benda yang akrab di benak tapi jauh di mata itu sangat membuatnya penasaran.

Belakangan, saat turun lebaran, dia semakin sering berpikir tentang cara melihat benda itu. Bila sakit tidak diizinkan Tuhan, dan bila pun sakit tetap tidak sampai ke dokter, dia bertekad tetap mendatangi sendiri tempat dimana stetoskop biasa berada. Dia bosan menunggu kesempatan. Tapi bagaimana caranya?

Suatu malam, di palasa1) rumahnya di dusun, Samin berpikir keras. Dia berpikir untuk menyelinap masuk ke puskesmas –yang bangunannya tidak bertambah baik selama bertahun-tahun— atau masuk ke rumah dokter lewat kandang ternak. Tetapi, orang-orang nanti menyangkanya maling. Atau berpura-pura bertamu ke rumah dokter? Ah, kata orang-orang di dusunnya, dokter yang baru itu, seorang wanita, tidak pernah mau menerima tamu di dalam rumahnya. Bila ada yang meminta diobati, Ibu Dokter akan mendatangi rumah warga atau mengobatinya di salah satu ruangan puskesmas. “Kenapa aku tidak berpura-pura sakit saja?” tanya Samin dalam hatinya.

Sedang dia merenung-renung itu, seseorang mendekat ke arah rumahnya dari remang-remang malam. Samar-samar, diterpa sedikit sinar lampu pijar 10 watt yang dipasang di palasa rumahnya itu, Samin melihat langkah tubuh seukuran badannya di bawah, di halaman tanpa taman. “Samin?!” Samin langsung berdiri dari bangkunya saat mendengar sapaan ragu-ragu itu.

“Ah-hai, kamu rupanya, Man. Mari, mari, naiklah,” ujar Samin. Rumah Samin, seperti kebanyakan rumah tua di dusunnya, berbentuk bangunan panggung, bertiang setinggi satu meter setengah dari atas tanah. Ruang utama selalu di lantai atas karena bagian bawah yang langsung berlantaikan tanah hanya untuk kandang ternak atau tempat menyimpan perlengkapan kerja, seperti cangkul, parang, bajak, dan lainnya.

Arman, pria yang baru datang itu, menakah tangga tergesa-gesa sambil tidak henti tersenyum. Dia sahabat dekat Samin semasa SD. Arman memeluknya, Samin gelagapan. Tidak biasa dia mendapat salam seperti itu. “Apa kabarmu? Mana orang rumah2)? Ha ha ha ha…, lama nian kita tak bertemu,” Arman berkata dengan girangnya. Begitulah teman lamanya itu. Semasa SD Arman suka sekali bercerita dan maota3). Untuk hal itu, Arman tidak berubah. Masih saja dia penuh semangat dan banyak tertawa. Sejak tamat SD mereka tak pernah bertemu.

Perubahan besar pada Arman adalah kulitnya yang tampak lebih bersih, tetapi pucat (atau mungkin pengaruh cahaya bohlam pijar 10 watt), rambut lurus tersisir rapi (dulu ikal dan acak-acakan), pakaian necis (dulu pakaiannnya sering main sambar jemuran). Tubuh, mungkin pakaiannya, menebarkan bau yang wangi. Arman memakai minyak wangi mahal, Samin menebak, walaupun tidak tahu beda antara minyak wangi mahal dan murah.

Setamat SD Samin hanya pernah sekali mendengar bahwa Arman sekolah SMP di kota. Setelah itu tidak banyak kabar tentang anak seorang saudagar di dusunnya itu. Itu karena Samin lebih banyak di ladang dan Arman pun jarang pulang.

“Tamat SMP, aku masuk SMA. Lulus, aku langsung kuliah. Susah juga kuliah,” ujar Arman dengan nada agak serius. Samin mengenal orang tua Arman yang hidup tak mencolok walaupun secara ekonomi jauh lebih baik dari kehidupan orang tuanya sendiri. “Kini aku dokter. Sudah SK, pegawai negeri di kota,” ujar Arman lagi.

Tentu saja Samin mendengar kata “dokter” dengan baik. Raut mukanya sempat berubah. Tetapi dia diam saja dan mencoba untuk terus mendengar cerita Arman.

Pertemuan itu pun menjadi panjang. Reuni yang benar-benar mengakrabkan kembali keduannya. Kopi dan gorengan yang disediakan emak Samin untuk mereka berdua pun sudah hampir habis. Samin tidak banyak menimpali saat Arman bercerita panjang lebar tentang banyak hal. Saat Arman kembali bertanya soal isterinya, Samin hanya menggeleng.

“Sam, kita…. Eh, mari kita ke rumahku. Ini kan malam takbiran, mengapa kita tak begadang seperti dulu sampai pagi?” ajak Arman. Samin tampak seperti berpikir sejenak sebelum mengangguk.

Tetapi, bukan begadang bersama yang dirindukan Samin. Bukan pula karena dia betah mendengarkan cerita Arman yang sering melucu. Hanya satu yang mendorong Samin: Dia ingin melihat stetoskop milik Arman. Arman seorang dokter, pasti punya stetoskop.

Berada di kamar Arman, Samin banyak linglung. Tetapi matanya liar ke sana ke mari mencari kalau-kalau benda yang sangat dicari-carinya itu ada di sekitarnya. Setelah sekian menit matanya mengitari kamar Arman tanpa menemukan apa yang dicarinya, Samin memberanikan diri bertanya. Tetapi, Arman selalu menahan lajunya kalimat tanya dari mulut Samin. Pemuda dusun yang lugu itu pun diam.

“Ayolah, giliranmu, apa ceritamu? Sudah banyak aku bercerita…. Eh, kau ingat Irma, tidak? Itu, anak Pak Madin yang dulu suka sama kamu?”

Samin sudah tak mendengarkan Arman. Bahkan, dia ingin memotong cerocosan Arman, tapi…. “Anaknya banyak sekali, empat. Ha ha ha, kecil-kecil lagi. Kasihan dia, jadi janda lagi ditinggal suaminya…. Eh, kamu kenapa, Sam? Ayolah, ada apa denganmu?!”

Samin hendak membuka mulut ketika Arman beranjak ke luar kamar dan kembali dengan dua botol minuman kaleng. “Ini, minum saja. Tidak ada apa-apanya. Cuma minuman kaleng.” Samin menerimanya, masih dengan diam, duduk di atas tempat tidur Arman yang empuk.

“Man,” tiba-tiba dia membuka mulut.

“Sudah, bukan bir. Tidak ada alkoholnya kok. Halal,” potong Arman sambil mengambil kaleng di tangan Samin dan membukanya lalu mengembalikannya ke Samin.

“Begini…,” Samin berbicara sambil menunduk menatap lantai keramik kamar Arman.

“Ada apa? Ada apa?” kejar Arman ketika mengetahui Samin serius membicarakan sesuatu.

“Kau…, kau…, punya stetoskop tidak?” Akhirnya keluar juga pertanyaan itu.

“Stetoskop?!” Mata Arman membelalak.

“Iya.”

“Tentu saja aku punya. Kenapa rupanya? Kau ingin memeriksaku? O, tidak, aku tahu….”

“Tolong…. Mana stetoskopmu?” potong Samin dengan nada suara datar. Tetapi sebenarnya ia mulai jengkel. Jauh-jauh dia pulang dari ladang di bukit, lalu mendapat kesempatan melihat stetoskop, mengapa sahabatnya itu mengabaikannya? Mengapa Arman masih saja bermain-main dengannya?

“Ayolah, Sam. Kau tidak ke sini hanya untuk itu kan?!”

Sungguh! Memang untuk itu. Bagaimana menjelaskannya ke Arman? Samin menahan kalimat di dadanya.

“Kau ke sini karena rindu kebersamaan kita dulu ‘kan?”

Bukan!

“Masak iya hanya untuk benda sepele, stetoskop itu, kau menemuiku?”

Iya! Samin geram.

“Ayo, jangan katakan kau tak pernah melihatnya. Jangan katakan kau tak pernah diperiksa dokter. Semua dokter punya. Tentu kau sering ke puskesmas atau ke dokter untuk berobat atau periksa kesehatan kan?”

Tidak! Darah Samin mendidih.

“Dan, tak mungkin kau mau mencoba memeriksaku dengan stetoskop kan? Aku dokter.”

Jduuug! Tiba-tiba, Samin bangun dari diamnya dan melepaskan tinju ke muka Arman. Arman terjengkang ke lantai. Dia terbeliak dan meringis menahan sakit. Wajah dan mata Samin memerah. Lalu dia menunduk dan memegang rambut Arman. Jduuug! Satu bogem lagi ke wajah Arman. Terdengar suara keras saat kepala temannya itu terjatuh lagi ke lantai. Kali ini, Arman langsung tak berkutik.

Samin bangkit, lalu menuju ke meja di sudut kamar. Dibukannya laci yang paling atas. Seketika dia menemukan apa yang dicarinya. Stetoskop itu berada di dalam kotak kecil putih panjang dengan selang terlipat dua. “Aku dapat! Aku dapat!” teriaknya keras sambil berlari ke atas tempat tidur Arman dan meloncat-loncat. Beberapa mmenit dia asyik berteriak dan melompat-lompat.

Mendadak, ketukan pintu menghentikannya. Seorang wanita memanggil nama Arman. Sambil berjalan pelan dengan mimik wajah masih kegirangan, Samin mendekat ke pintu. Tiba-tiba dia ingat harus memasang dua ujung stetoskop itu seperti dokter melakukannya, seperti dikatakan gurunya. Lalu, ujung lain stetoskop itu dia lekatkan ke daun pintu.

Samin kaget saat mendengar suara begitu keras di telinganya. Seperti suara bedug disambungkan ke speaker masjid. Dia mundur beberapa langkah. Pintu tak dibukannya. Matanya, yang merah sedari tadi, kembali liar ke sana ke mari.

Bingung, Samin mendekat ke tubuh Arman yang tergeletak di lantai. Ditempelkannya ujung stetoskop itu ke dada Arman. Dia ingat, begitulah kata gurunya untuk mendengar detak jantung orang sakit. Dug…, dug…, dug…. Suara dari dada Arman terdengar keras di telinga Samin. Dia tersenyum. Ia tak tahu bahwa sebenarnya jarak satu detak ke detak lainnya tak beraturan. Samin ingin mendengarnya lagi. Didekatkannya kembali mikrofon stetoskop itu ke dada Arman. Kali ini hanya satu dug!

“Ha ha ha, ha ha ha…!” Samin tersenyum lagi sebelum tertawa terbahak-bahak. Tertawanya lebih keras lagi, lebih keras. Tidak cukup keras baginya, dia meletakkan mikrofon stetoskop itu di dekat mulutnya dan tertawa lebih keras lagi. Semakin keras terdengar di telinganya, semakin keras pula dia tertawa. Pintu didobrak. Dia tak mendengarnya. Dia terus tertawa, lebih keras dan…, tertawa.(J Rizal; Mei 2005)

Catatan:
1) teras rumah panggung (Kerinci)
2) sebutan untuk istri
3) maota, asal kata ota (Minang Kabau); berbicara banyak hal yang terkadang tak bisa dipercaya kebenarannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s