Cerpen Lagi: Ketika Harus Tertawa

Sungguh sebuah pertemuan yang tidak terencana. Aku dan Mike berpelukan di sebuah makam. Makam Ibu. Cuaca mendung. Angin berhembus dingin menggugurkan bunga dan daun-daun kamboja.

Sejak Ibu wafat, Mike selalu bertemu aku di saat perasaanku tidak bisa diajak bercanda. Selalu di tempat yang memang tidak layak untuk tertawa, bahkan untuk tersenyum kecil sekalipun.

“Ibu selalu tahu kapan aku akan jatuh. Sekali aku diperingatkan, pasti jadi kenyataan,” ujar Mike setelah kami saling melepas pelukan.

Semenit lalu, dia bercerita bahwa dia sangat ingin bertemu aku dan Ibu. Sejak Ibu wafat, Mike selalu bepergian. “Aku takut ingat Ibu,” katanya memberi alasan. Lalu dia memancing senyum dan geliku dengan berbagai cerita. Aku berpaling ke makam Ibu.

“Ingat kapan aku pernah jatuh?” tanyanya.

Aku diam. Aku tahu apa maksudnya bertanya begitu. Dia ingin aku mengenang saat dia terjatuh di kamar mandi yang pintunya terbuka ketika usia kami masih 14 tahun. Ibu bilang, hati-hati. Tapi Mike yang hanya mengenakan handuk, sambil bersiul-siul, tidak menghiraukannya. Dia terjatuh. Handuknya terlepas bersamaan dengan muculnya Ine, pacar pertamanya. Ibu kaget, aku tertawa cekakakan. Begitu pun Ine. Perutku sampai sakit waktu itu.

Aku hendak tersenyum, tapi mendadak membuang muka. Mike pasti tahu aku tersenyum. Pasti. Mike selalu begitu. Selalu tahu perasaan dan ekspresiku. Tapi ini di makam Ibu Mike…. Please.

Mike bukan anak kandung Ibu. Dia masuk dalam daftar keluarga kami begitu ibu kandungnya, kata Ibu namanya Yale, berangkat ke tanah suci dan tak pernah kembali. Cerita Ibu setelah kami besar, niat Yale berangkat haji sudah sangat lama. Sejak ia ditinggal suaminya. Tapi entah kenapa dia harus berangkat ketika Mike masih orok merah. Yale hanya pernah memberi alasan ke Ibu bahwa panggilan baginya telah datang.

Yale adalah wanita yang sangat disayang Ibu. Mereka berdua sama-sama satu suami. Ayah kami? Entahlah. Yang pasti, Ibu memang akhirnya tahu bahwa suaminya, kata Ibu namanya Nicholas, punya istri lagi. Ibu marah dan mengusir Nico. Pria itu pun pergi, meninggalkan semuanya. Membiarkan Ibu dan Yale.

Ibu lalu mencari Yale dan mengajaknya tinggal serumah. Yale sempat ragu tapi Ibu meyakinkannya bahwa ini hanya niat baik belaka. Ibu ingin mereka berdua benar-benar sepenanggungan. “Biar aku yang pergi dari rumah ini,” begitu kata Ibu sambil memohon pada Yale untuk tinggal di rumah kami.

Enam bulan kemudian, Ibu melahirkan aku pada hari yang sama dengan Yale melahirkan Mike. Aku lahir pukul 05.05, Mike lahir sepuluh menit setelahnya. Waktu itu pagi sangat cerah. Kata Ibu, aku lahir dengan tangis yang keras, tapi tangis Mike tidak kalah kerasnya. Bahkan kata Ibu aku langsung berhenti menangis ketika dari ruang bersalin sebelah terdengar tangis Mike.

***

Aku sangat sedih bila berada di makam Ibu. Tapi aku lebih sedih bila aku sadar bahwa aku tidak memiliki ketegaran dan sifat humoris sebesar yang dimiliki Mike. Juga akan lebih sedih bila ku membiarkan Mike tanpa teman tertawa atau sekadar tersenyum. Tapi, Mike, sekali lagi… please…, jangan paksa aku walau hanya untuk sesungging senyum. Jangan pancing urat geliku.

Tapi aku tidak bisa menahannya. Aku mencoba menekan perasaanku keras-keras agar tidak tersenyum. Tetap saja tak bisa. Aku semakin sedih… Aku semakin ingin tersenyum. Aku semakin geli begitu ingat Ine menunjuk “burung” Mike saat dia terjatuh di kamar mandi dulu. Tapi sungguh aku tak mau tertawa Mike! Aku sedang bersedih.

Namun, semakin aku menghayati rasa sedih, semakin gencar urat senyumku mendesak-desak. Ia mencoba membentuk-bentuk bibirku, monyong ke kiri, ke kanan dan ke samping. Mike mungkin tahu. Tapi…. Mike please…, please…, jangan paksa aku, jeritku lagi dalam hati.

Aku tak tahan, sungguh tak tahan. Tetap tak tahan. Seper sekian kecepatan suara, mendadak aku berdiri dan mendongak. Aku melihat ke wajah Mike yang masih selucu dulu. Lalu, ya heh, aku tertawa lepas. Bebas. Gaungnya menggema di langit yang berawan hitam.

Sebentar lagi hujan akan turun. Mike memelukku. Sekali lagi aku tersenyum dan tertawa lepas. Bebas. Mike…, Mike, Aku selalu merindukanmu. Merindukan pertemuan seperti ini.(J. Rizal, 1999-2003)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s