Erin, oh, Buyat, oh, Lapindo

Pernah dengar nama Erin Brockovich-Ellis, penyandang gelar Miss Pacific Coast pada 1981? Dinihari tadi aku menonton film yang berbasis kisah hidupnya di layar RCTI. Judulnya persis seperti namanya: Erin Brockovich. Nama lahirnya adalah Erin LE Pattee, janda dari dua suami, dengan tiga anak. Suami pertamanya adalah Shawn Brown (1982), dan yang kedua Steven Brockovich (1989).

Kisah di film jauh dari kehidupannya di dunia beauty pegeant atau selebriti. Erin, yang diperankan Julia Roberts, memimpin investigasi kasus pencemaran akibat pemakaian hexavalent chromium (chromium-6) oleh perusahaan bernilai USD 28 miliar (berapa triliun rupiah tuh?), Pacific Gas & Electric Company (PG&E), California, pada 1993.

Sebelum memimpin investigasi tersebut, hidup Erin serabutan: Ditinggal dua suami dengan tiga anak, tanpa pekerjaan lagi. Saat mencari pekerjaan, mobilnya ditabrak, lehernya patah, yang membawanya berkenalan dengan pengacara Ed Masry, pengelola firma hukum Masry and Vititoe. Seusai sidang kasus kecelakaan itu, dia masih bangkrut, dan setengah mengemis meminta pekerjaan ke Ed Masry. Ia benar-benar memulai dari nol sampai kemudian menangani kasus sebesar PG&E.

Yang menarik dari kasus PG&E itu adalah hasil yang dicapai Erin dan firmanya setelah mengajukan sejenis tuntutan masal atas nama warga korban pencemaran zat beracun dari pabrik PG&E di kawasan Hinkley. Di pengadilan arbitrasi (sidang tanpa juri), PG&E kalah dan membayar ganti rugi sebesar USD 333 juta (sekitar Rp 3,3 triliun) bagi ratusan korban pencemaran. Erin kebagian bonus USD 2 juta (sekitar Rp 20 miliar). Erin dan firmanya kaya mendadak, pasti.

Sebagai wartawan yang sehari-hari bergelut dengan investigasi, cerita film ini langsung menarik perhatianku. Sampai-sampai, iklan KPI yang memperlihatkan seorang ayah yang sibuk nonton televisi sehingga isterinya harus membuat topeng bergambar wajah sang ayah untuk menghibur anak mereka, terasa sangat mengganggu. Aku juga langsung teringat pada The King of Tort (Raja Ganti Rugi), novelnya John Grisham.

Grisham menceritakan kisah para pengacara “nakal” yang memanfaatkan korban produk tertentu untuk mengajukan class action bernilai besar. Warga dapat ganti rugi, pengacara yang tidak pernah menghadiri sidang karena kasunya selesai dengan negosiasi, mendapat komisi besar.

Aku pun langsung teringat kasus pencemaran Teluk Buyat dan lumpur Lapindo. Kasus Erin terjadi pada 1993, dan Grisham menerbitkan bukunya beberapa tahun kemudian. Aku bertanya-tanya, adakah pengacara atau pihak lain yang meniru modus yang sama untuk keuntungan sendiri dalam kasus Buyat? Bila iya, siapa, ya? Siapa pula yang sedang bermain dalam kasus lumpur Lapindo?

Jangan begitulah.

Dalam film dilukiskan, Erin menemukan kasusnya secara tidak sengaja dan Ed Masry bukanlah orang yang ambisius. Erin bekerja keras dan melakukan investigasi langsung, mengetahui dan merasakan penderitaan warga yang terkena kanker rahim, kulit, mata, dll. Dia juga berhasil mengungkap bahwa PG&E sengaja menghilangkan bukti-bukti untuk menutupi kesalahannya.

Sementara pengacara dalam cerita Grisham hanya mencari uang semata, dengan memanfaatkan warga, dan lebih mengesankan pemerasan terhadap perusahaan besar. Alangkah baiknya bila tidak ada yang menjaring mutiara di teluk Buyat dan menangguk dolar dalam lumpur Lapindo hanya untuk memeras. Salam.

Iklan

One thought on “Erin, oh, Buyat, oh, Lapindo

  1. aku dah berkali-kali nonton film itu. Malah sempet ingin ikut2an Erin waktu ada kasus kanker massal di Grujugan (sebuah desa di Banyumas).
    Setidaknya penampilanku sudah seperti Julia Robert *gubrak* (eh ada yang pingsan ya?).
    Tapi memang tidak semua orang bisa punya energi kayak Erin ya. Termasuk aku. Duh…kenapa yang mirip hanya penampilanku ya? #gubrak# (hah…pingsan lagi?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s