Ingat Teman-teman

Bila waktu Magrib di Jakarta tiba, aku selalu teringat ilustrasi kumandang azan di layar Indosiar. Sungguh ilustrasi yang bisa membuat sakit rahangku menahan haru:

Ada seorang anak yang sedang menunggu ibunya menambal/menyulam kain sarung lusuh untuk dipakainya salat Magrib waktu itu juga. Sementara azan berkumandang, ia menunggu sendu. Kain sarung itu sudah sangat tua. Ia keluar rumah dan bertemu dua temannya yang hendak berangkat ke masjid. Mereka bertanya, tetapi ia justru membentak mereka dengan kesal.

Maka ia kembali pulang dan memutuskan untuk membeli sarung baru. Celengannya yang sedikit diambil, ditambah sisa uang ibunya. Maka, berangkatlah ia ke pasar di senja menjelang Magrib itu. Di toko, ia menunjukkan uang dalam genggaman setelah penjaga menyerahkan satu kain sarung baru ke tangannya. Pada saat bersamaan, seorang nenek renta dengan seorang anak kecil datang menadahkan tangan ke bocah laki-laki itu. Sedih sekali. Sang bocah menyerahkan semua celengannya dan tak jadi membeli kain sarung.

Uang pemberian ibunya yang tersisa ia kembalikan. Ia tetap berangkat ke masjid dengan kain sarung tua yang bagian bawahnya seperti susunan pegas, ngeper gitu. Dua teman karibnya melihat itu. Maka, bersama-sama, kedua teman itu pun mengumpulkan uang bersama untuk membeli hadiah sarung baru bagi si bocah miskin. Sungguh persahabatan yang mengharukan.

Aku jadi ingat teman-teman masa kecilku yang sering memboncengku dengan sepeda sejauh tiga kilometer setiap pagi dan siang bila kami berangkat dan pulang sekolah semasa SMP. Ada Gimin (sedang apa ia sekarang? terakhir aku bertemu nasibnya lebih baik, karena ada kakak sepupunya punya toko dan mobil. aku ingat dulu sering mampir ke tempatnya sepulang sekolah. ia hanya tinggal bareng mak wek/neneknya yang renta) dan Lanjar (eh, kamu kuliah dan kerja di mana sih?), dll.

Kehidupan keluarga mereka kala itu tidak lebih baik dari keluargaku. Aku sendiri punya sepeda, tetapi seringkali aku yang meminta dibonceng mereka.Bila pagi, beban mereka agak ringan karena jalan menurun. Tetapi bila pulang sekitar pukul satu siang, panas di atas kepala, jalan menanjak, perut keroncongan, bukankah mereka sangat capek? Makasih, yo, Min, Njar….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s