Kang Didi Bener-bener Dosen

mepetet-oke.jpg

Didi Petet memang benar-benar dosen. Sangat wajar dia dipertahankan sebagai dekan Fakultas Seni Pertunjukan di IKJ. Aku mengetahuinya ketika dia berada di Jambi selama 29 November-1 Desember 2006. Ia datang untuk memberikan pelatihan tentang desain produksi teater di hadapan ratusan mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasan dan Seni FKIP Universitas Jambi.

Pada malam pembukaan acara itu, untuk pertama aku menyaksikan dia hadir sebagai seorang guru, bukan sebagai sosok figur publik yang selama ini dipenuhi keglamoran, dunia selebriti. Ia mengkritik dengan lembut, menyemangati mahasiswanya dengan penuh kasih, dan memberikan penilaian yang membuat para peserta pelatihan tetap percaya diri. Dia juga menguasai suasana dengan baik, tampil santai, menguasai materi dengan baik, menjawab pertanyaan dengan cara yang menurutku hanya dimiliki oleh para guru.

Aku sendiri hadir di acara itu bukan sekadar iseng atau ingin melihat langsung wajah bintang film terkenal itu. Seperti dia, aku pun menjadi pemateri. Bila ia memberi kuliah tentang teater, aku, sesuai profesiku, mengisi pelatihan tentang jurnalistik. Tentu saja aku tidak mengajar sebaik dia, walaupun mendapat respons yang menurutku juga cukup baik dari mahasiswa.

Ada hikmah lain dari acara itu. Pada sore hari terakhir pelatihan oleh Kang Didi, iseng-iseng aku meminta panitia mengajak bintang iklan “bebek” Yamaha itu ke Graha Pena Jambi, kantorku di kawasan Thehok. Eh, dia sangat antusias. Panitia hanya meminta, kalau bisa ada acara makan durian dan kenang-kenangan batik. No problem. Tapi, kataku ke mereka, soal batik gak bisa dipastikan. Maka, sekitar satu jam di ruang redaksi, teman-teman di kantor mendapat tambahan ilmu juga dari Kang Didi. Satu lagi, lima anak SMA, mendapat kesempatan khusus melakukan wawancara untuk halaman khusus anak muda pula, Bianglala.

Tapi, soal batik aku tak bisa meyediakan. Celakanya, panitia memaksa karena sudah menjanjikan ke Didi Petet. “Kan nama baik juga buat orang sini kalau beri kenangan-kenangan ke Didi Petet,” kata panitia. Wo-alah. Jadilah aku kelabakan sore itu. Selama ini tidak terpikir bakal ada keharusan –atau pemaksaan?– memberikan kenang-kenang kepada tamu-tamu kami. Banyak sudah para pejabat yang menyempatkan diri ke kantorku itu, dan tidak sekali pun panitia memaksakan hadiah bagi tamu mereka. Bukankah sang tamu juga merasa senang berteman dengan media massa karena rata-rata mereka juga dibesarkan oleh media massa? Atau aku salah? Kalaupun ada yang mendapat kenang-kenangan biasanya berupa karikatur beringkai indah yang dibuat oleh desainer grafis kami yang memang seorang pelukis. Itu pun dipersiapkan bila kunjungan sudah dipastikan jauh-jauh hari.

Akhirnya aku minta panitia belikan batik Jambi itu bila sepulang dari Graha Pena. Tapi, tetap saja tidak nyambung. “Bagusnya diserahkan di sini, kan gagah begitu,” sang panitia berkata lagi. Ha-lah. Cobaan apa ini…. Akhirnya, tetap tidak ada batik di Graha Pena dengan pesan agar dibelikan di jalan lalu antarkan ke hotelnya Kang Didi.

Besoknya, sebelum giliran aku memberikan materi, aku mendapatkan kepastian bahwa panitia sudah membelikan batik itu. Masalahnya, kali ini harus pakai uangku karena aku tidak pernah memberitahu orang kantor terlebih dulu bakal ada pembelian batik seusai kunjungan Didi. Lagipula, memang sejak awal tidak ada rencana beli batik. Oke…. Ini uang pribadi, aku ganti biaya panitia. No problem…. realy. Sungguh, aku senang bisa memberikan hadiah dari pribadiku untuk Kang Didi.

Maka, usai penyampaian materi yang penuh semangat selama sekitar dua jam itu, sambil menyetir, aku menelepon Kang Didi. Ia sudah di Jakarta. Aku sampaikan bahwa kapan-kapan aku ke Jakarta, aku akan meminjam waktunya untuk sekadar ngobrol. Ia manggut-manggut –ketahuan dari suaranya. Tak lupa aku sampaikan bahwa aku titip kenang-kenangan untuk dia lewat panitia. “Oh, iya, terima kasih,” begitu jawaban Kang Didi. Tapi masalah belum selesai.

Panitia ternyata iri juga dengan kantorku. Ceritanya, berita tentang kunjungan Kang Didi plus wawancara eksklusif oleh kru Bianglala lebih heboh dari ekspos acara pelatihan yang mereka gelar. “Bagaimana ya? Teman-teman tanya, apakah yang bayar Rp 15 juta (katanya itu honor Kang Didi sebagai akademisi) itu dari Jambi Independent?” ujar salah satu dari mereka.

Terpaksalah aku menjelaskan panjang lebar bahwa liputan tentang pelatihan sudah dimuat dan masih ada sejenis rangkuman tulisan tentang pelatihan itu yang ditulis oleh Pak Dar, dosen PBS yang juga dikenal sebagai sastrawan. Terpaksa juga aku menambahkan begini: “Kami sih biasa, Pak, kedatangan orang-orang penting, mulai dari Gus Dur dan beberapa menteri, Padi, Peterpan sampai ke artis baru naik daun. Biasa pula kami mengajak mereka ngobrol di ruang redaksi. Ini sangat biasa bagi kami.” Aku ingin menegaskan begini: tidak pernah ada pihak luar yang mengharuskan kami memberikan kenang-kenangan kepada tamu atau melarang kami mengekspos tentang kunjungan mereka ke kantorku. Tapi, aku hanya tulis kalimat itu di sini. Bila ekspos di acara di kampus itu tidak seheboh acara di Graha Pena, tentu karena kami mengerti nilai berita dan sudah merencanakan acara kunjungan itu untuk kepentingan berita. Ada yang salah?

Semoga tidak ada salah paham karena koran dan kampus sama-sama punya kepentingan. Aku yakin ini hanya salah persepsi karena ketiadatahuan sebelah pihak atau mungkin justru karena kebiasaan pihak lain yang tidak diketahui orang banyak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s