Pesan dari Kairo

Secebis pesan dari Kairo masuk ke ponselku lewat layanan SMS, suatu waktu. David Kholil, mahasiswa di Universitas Al Azhar, yang mengirim. Intinya kira-kira begini: Kenapa kemelayuan Jambi tidak semenonjol kemelayuan Riau. Lihat koran-koran di Riau, semisal Riau Pos, yang menerbitkan rubrik budaya dalam beragam nama, berhalaman-halaman pula setiap pekan.

Budayawan-budayawan dan sastrawan berkelas, termasuk Pak Ismail Kadir alias Rida K Liamsi, bosnya Riau Pos Grup, dan Taufik Ikram Jamil ikut meramaikan dan merangsang lestarinya kebudayaan Melayu di negeri asal bahasa Indonesia itu. Kenapa orang-orang Jambi tidak segigih itu?

Entah tersinggung karena nama koran dibawa-bawa plus kenyataan aku menyukai budaya dan sastra atau karena naluri bisnisku yang terpancing, seketika aku bertanya dalam hati: Apakah koran penuh budaya menghasilkan uang? (Saya bekerja lho di koran, bukan pemodal.) Apakah hanya aku, orang koran, yang harus memotivasi, seperti Pak Rida atau seperti GM, agar budaya dan sastra itu menggeliat?

Yang jelas, pesan itu tidak aku jawab –mohon maaf nian, Vid. Saat menerima pesan itu sayo memang sedang tidak mood bicara budaya dan sastra. Sayo tahu betapa pentingnya koran untuk budaya dan sastra lengkap-pekat dengan sejarahnya. Tapi apolah dayo, tak sampai ke situ pulak cabauan pikiran sayo ko.

Orang Jambi itu pada dasarnya sudah tidak sangat serentak bak regam lagi sebagai suatu kesatuan suku dalam suatu cluster. Sungguh, aku mengamati selama ini. Lihatlah bagaimana para pembalak liar bisa berakrab ria dan bahu membahu membabat hutan dengan para cukong dari latar budaya berbeda. Bukankah hal seperti itu adalah contoh pembauran yang lambat laun menepis core budaya Melayu Jambi, sehingga memunculkan core baru berselimut modernitas?

Melayu Jambi berjaya itu dulu, saat Candi Muarojambi masih tegak kokoh, lengkap dengan aksara-aksara bertuliskan di atas lempengan emas –sekarang emasnya di mana?– bukan ketika puing-puingnya dibuldozer untuk membangun kebun sawit atau pabrik kayu seperti sawmill dan moulding kini.

Melayu Jambi berjaya itu zaman orang mendulang emas dengan jemari semata, tak kenal kata merkurium atau mesin tambang emas modern yang sering dijuluki sekenanya dengan nama Dongpeng. Dulu itu. Ketika Teluk Wen masih ada –kini tidak seorang ahli sejarah pun mampu menunjuk dengan telunjuk di mana Teluk Wen yang katanya merupakan pusat dagang dan kerajaan Melayu Jambi tempo dulu.

Jadi, bila saya tidak “nyambung” dengan budaya dan sastra seperti “nyambungnya” Pak Rida dan Taufik lebih karena aku tidak pernah bisa menemukan jejak untuk kembali melihat lorong masa lalu. Melihat saja jadilah, nanti dulu masuk ke dalamnya. Tapi untuk sampai ke pintu lorong itu saja aku tak mampu.

Aku tak hendak menyalahkan ahli sejarah yang tidak memberi banyak rujukan tentang budaya dan sastra Melayu Jambi. Aku juga terkadang sangat menyalahkan diri bekerja di kantor surat kabar yang berdiri di tengah hiruk-pikuknya hiburan ala Hongkongnya Jambi. Sungguh, aku ingin tinggal di perkampungan Melayu, seperti –mungkin– awak, Vid, tinggal di perkampungan Muslim di Kairo.

Kemarin dulu, pas HUT Emas Provinsi Jambi bae sayo bertanya-tanya. Bagaimana bisa Pemprov menggagas acara membatik cap massal sampai masuk rekor Muri dan internasional, sementara yang lebih “membudaya” dan “bernilai historis” (keduanya dalam tanda kutip” adalah batik tulis. Orang Jambi biasa mengekpresikan seni dengan menulis batik, bukan mencapkan motif –entah buatan siapa– batik di atas kain putih yang orang buta sekali pun bisa melakukannya.

Salam

Iklan

2 thoughts on “Pesan dari Kairo

  1. Bang,

    Sedikit yang saya ketahui, bang Mahyudin tokoh Melayu yang memiliki perhatian terhadap perkembangan Melayu Serantau.

    Beliau pernah menerima anugerah sagang, kalo dak salah kategori Buku Rumah Melayu.

    Apresiasi hangat atas ketekun-tunakan beliau!

    Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s