Sebut Aku Penulis

Sudah lama aku ingin menyampaikan apologia ini, tapi tak pernah ada tempat, waktu dan target yang cocok untuk menyampaikannya. Aku tulis di sini sebagai sebuah curahan hari semata.Sejak awal aku memang belajar menulis. Niatku memang menjadi penulis. Bentuk karyaku beragam. Tulisanku, ya, puisi, apresiasi terhadap karya, esai, cerpen, laporan perjalanan dan lain sebagainya. Tidak tepat rasanya bila karena aku menulis puisi lantas begitu saja aku disebut penyair, atau karena aku menulis esai sastra dan cerpen lantas aku dijuluki sastrawan. Wuih… Hebat benar gelar itu.

Sejak awal aku memang ingin menjadi penulis dan karena itu aku bangga dengan predikat itu sampai kini karena aku masih menulis, minimal di blog ini. Jadi, aku sama sekali tidak layak dikelompokkan ke dalam barisan penyair apatah lagi sastrawan.

Yang sering menyebut aku penyair ‘kan teman-teman sendiri. Memang teman-teman tidak memaksa memasangkan sebutan itu padaku, tetapi bila aku tidak menulis puisi lagi, please deh, jangan paksa aku untuk menyair. Begitu mengetahui aku tidak lagi kumpul-kumpul dengan para rekan seniman dan sastrawan di sini, jangan pula mengatakan aku tidak care. Atau, bila koran tempatku bekerja tidak menyediakan banyak halaman budaya, terutama sastra, jangan pula menganggapku pengkhianat. Kayaknya tidak bijak bila ada di antara teman-teman yang berkomentar tentang aku begini: Percuma saja dia jadi penyair, tapi tak pernah menghasilkan karya bermutu, ngepop, komersil, murahan.

Aku penulis. Aku mencari uang dan menghidupi keluargaku dengan mengemban tugas tulis-menulis. Aku pekerja pers yang diserahi tugas menulis dan menyunting tulisan untuk kemajuan perusahaan yang menampungku bekerja. Memang, aku berwenang menentukan mau buka rubrik apa pada hari apa, tetapi tugasku pula untuk menentukan khalayak sasaran koranku. Dengan cara itu aku ikut mengembangkan dan mempertahankan eksistensi koran ini, baik sebagai lembaga penerbitan pers maupun sebagai lembaga usaha yang menghidupi puluhan karyawan. Dengan cara itu pula aku bisa hidup dan bertahan di koran ini. Dan, itu pilihan hidupku.

Dan, karena itu, soal bermutu atau tidak bermutu, tidak selayaknya dinilai dari nyastra tidaknya karyaku itu. Tulisan, baik terkait ide, gaya maupun tata bahasanya, memiliki standar penilaian sendiri. Karya jurnalistik juga begitu. Ada kriteria umum untuk menentukan bermutu tidaknya sebuah karya jurnalistik. So, inilah duniaku.

Kalau teman-teman memilih hidup menjadi penyair, pembaca puisi, pemain teater, itu ‘kan pilihan hidup teman-teman pula. Apakah teman-teman lebih bahagia dan sejahtera atau malah terpuruk karena pilihan itu aku tidak akan pernah menyoal predikat teman-teman. Jadi kita selesaikan saja secara jantan: Aku penulis yang bekerja di surat kabar, tidak sama dengan teman-teman yang bermain teater dan membaca syair di berbagai kota. Tidak sama. Karena aku penulis, bila suatu saat dari kumpul-kumpul dengan teman-teman penyair aku mendapat inspirasi untuk sederet syair atau cerita, ya…, tidak salah ‘kan? Sama tidak salahnya dengan ketika aku membaca sebuah cerpen, menonton teater, atau membaca puisi lalu aku menulis kolom apresiasi dan kritik.

Jadi, aku bukan pengkhianat. Dan aku juga bukan penyair dan sastrawan yang “terjebak profesi” dan melupakan kerja seperti teman-teman yang lain. Aku tidak terjebak karena aku menikmati profesiku sebagai wartawan dan penulis. Aku juga tidak mandul karena setiap bulan selalu ada tulisan yang aku buat; setiap hari aku melakukan tugas jurnalistik. Kalau aku tidak banyak lagi menulis puisi atau cerpen atau esai sastra itu murni karena aku lebih banyak memikirkan pekerjaan pokok yang mendatangkan keuntungan lebih secara jasmaniah dan rohaniah, lahiriah dan bathiniah.

Terima kasih kepada teman-teman yang pernah menerbitkan karya-karyaku ke dalam beragam bentuk buku (antologi). Seingatku, karya-karyaku yang katanya agak nyastra sudah diterbitkan setidaknya dalam tujuh judul buku, mulai dari penerbit di Kerinci sampai ke Jakarta. Tetapi tak satu pun kopinya ada di tanganku, kecuali yang judul Tirawang (thanks untuk Pak Amri Swarta), antologi puisi bersama para penyair Kerinci. Gragra yang diterbitkan rekan-rekan pengasuh cybersastra.net, yang memuat satu entah dua puisiku, tak tahu lagi di mana. Buku-buku yang lain aku bahkan tidak ingat judul dan penerbitnya.

Terima kasih pula kepada teman-teman yang menjadi panitia di berbagai acara dan memberikan penghargaan kepadaku, dengan mengundangku sebagai peserta lomba, pembicara, pembaca puisi dan lain sebagainya. Kebanyakan undangan membaca puisi tidak bisa aku penuhi karena aku memang tidak bisa membaca puisi di depan umum –kaku.

Terima kasih tak terkira pula kepada para panitia berbagai pelatihan dan lokakarya jurnalistik yang merekomendasikan aku berbicara dalam kapasitas sebagai wartawan. Sampai kini aku masih berharap dapat memenuhi sebanyak mungkin undangan menjadi pembicara di berbagai acara dalam kapasitas sebagai penulis dan wartawan, bukan sebagai penyair apatah lagi sastrawan.

So, kalau kita bertemu, Teman-teman, mari berbicara dengan mempertimbangkan pilihan dan profesi yang berbeda. Aku seorang penulis, teman-teman terserah bekerja apa. Tolonglah.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s