A Beautiful Mind, A Brilliant Madness

Satu lagi film berbasis kisah nyata yang sangat mengesankanku: A Beautiful Mind –terima kasih untuk RCTI yang menayangkannya dinihari tadi. Dibintangi Russell Crowe, Ed Harris, Jennifer Connelly, Christopher Plummer, dan Paul Bettany, film ini menembus puncak Academy Award 2002, menyabet predikat best picture. Film lain tentang hidup Nash direkam di bawah judul A Brilliant Madness –dapat disimak di sini.

Yang hebat bukan hanya filmnya –tentu– tetapi sosok John Forbes Nash itu sendiri. Ia ahli matematika yang memenangkan Hadiah Nobel bidang ekonomi pada 1994. Lebih dari itu, ia memiliki dunia lain, dunia penuh halusinasi karena ia memang penderita skizofrenia. Bahkan, sebagai ahli, ia mampu menyembuhkan diri sendiri dari penyakit yang diyakini banyak orang tak ada obatnya itu. Bagaimana bisa?

Dalam A Beautiful Mind tergambar jelas satu kelebihan Nash, yakni saat ia bersama teman-temannya mengagumi seorang gadis tercantik di antara sekelompok gadis. Karena ada satu gadis cantik, bisa dipastikan kelompok Nash, ya, kelompok pria, akan berebutan menggaet sang ratu. Tapi Nash muncul dengan pendapat mengejutkan.

Kalau berebutan untuk mendapatkan yang tercantik, maka semua pria akan bertabrakan lalu hancur…. Byar…! Sang ratu pun tak mendapatkan pasangan. Kemungkinan kedua, semua pria pemangsa itu gagal mendapatkan sang ratu lalu memilih wanita-wanita lain di sekelingnya. Kelompok pria itu tetap gagal karena para wanita bersama wanita tercantik itu tak mau menjadi pilihan kedua.

Satu-satunya solusi, kata Nash, mengabaikan sang ratu cantik itu. Maka, semua rekan Nash akan mendapatkan wanita di sekeliling wanita tercantik sebagai pasangan masing-masing. Hebat kan?

Kalau ada lima pria di kelompok Nash dan lima gadis di kelompok sang ratu cantik itu, maka sepuluh orang sudah beruntung. Hanya satu yang rugi, Si Ratu Cantik.Aku kira, aku kira lho, itulah sebagian bentuk terapan game theory yang mengantarkan Nash merebut hadiah Nobel. Soal game theory, yang aku tahu, itu pun setelah browsing dan buka sana-sini, adalah cabang ilmu matematika terapan dan ekonomi. Belakangan, game theory bayak dipakai untuk kepentingan mengatur strategi bisnis bahkan politik.

Masalahnya, aku terlanjur pusing untuk memahami terori Nash itu. Kalau ada yang otaknya agak mendingan dikit dari aku, coba baca-baca sambil garuk kening –kayak gayanya Nash– di sini:

1. cepa.newschool.edu….
2. nobelprize.org/nobel_prizes….
3. www.pbs.org/wgbh/amex….

4. en.wikipedia.org/wiki….


Pokoknya aku pusing, apalagi mengingat Nash punya teman khayalan. Bayangkan, tanpa sadar dia mengikuti kemauan teman khayalannya itu, yang di alam bawah sadar ia kenal sebagai Big Brother atau Parcher, orang penting di Pentagon. Dia merasa sang Brother mengajaknya bergabung menjadi agen rahasia AS untuk memecahkan kode rahasia intelijen Rusia. Ia patuh saja saat merasa diperintah untuk mencermati judul semua koran setiap hari karena menurut Big Brother agen Rusia di AS mengirimkan kabar ke “pihak musuh” itu lewat koran.

Maka guntingan koran pun berhamburan di ruang kerjanya. Maka, setiap hari ia memecahkan kode-kode dari judul-judul berita koran itu. Ketika suatu waktu dia ditahan oleh psikiater saat memberi ceramah di sebuah kampus, dia langsung menuding orang-orang yang hendak menolongnya itu mata-mata Rusia yang akan membunuhnya.

Padahal, tak ada Parcher di dunia nyata, tak ada Pentagon dalam sejarah kerjanya. Ia bukan agen rahasia dengan tugas khusus memecahkan kode dari setiap judul koran. Semua itu khayalan. Gila! Benar-benar gila! Nash memang terkena skizofrenia. Lebih gila lagi, sikap aneh Nash di tempat kerjanya dianggap biasa. Wah, semua jadi gila ternyata.

But…. ya, ada but-nya. Si jenius matematika yang skizofrenik itu memiliki a beatiful mind, a brilliant madness, something yang mengantarkan dia ke kursi kehormatan ilmu pengetahuan di jagad raya ini.

gambar-gambar aku ambil dari url-url yang bertebaran dalam postingan ini, tanpa izin, tentunya.

Iklan

3 thoughts on “A Beautiful Mind, A Brilliant Madness

  1. Ah iya, aku juga nonton film ini. Lumayan berat buat otak saya yang taunya cuma masak dan nyuci piring, hehehe…

    film bagus 🙂

    mas, boleh ngasi masukan? setting buat komennya bisa diganti ga? yang wordpress, blogsome, blogdrive, ga bisa ikutan komen kalo gini kan? jadi, yaaah…:D

  2. its hard 2 find that kind of story coz on thiz buzzing world there is no such kind of human being. but i can take a world from this movie
    “every human has one brain but how we use it make it diferent”…….
    but in my world there’s alot of people who live whit SHITT i mind really really shit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s