Roidah sang Novelis

buku-roidah.jpg

Ia wanita muda yang menurutku cukup energik, terutama bila dibandingkan dengan tubuhnya yang mungil begitu. Ia bekas wartawan, pekerja LSM peduli lingkungan, yang sekarang serius menjadi penulis dan berencana mengelola penerbitan. Setidaknya begitu catatan terakhir yang ia torehkan untuk aku ingat.

Lupa, kapan pertama kali aku bertemu dengannya. Belakangan, namanya muncul di telingaku ketika isteri mengabari bahwasanya Roidah, bekas asisten komunikasi di tempat isteri bekerja –sebelum si Fai– sudah menjadi novelis. Katanya, novelnya booming di pasaran. Istri tidak tahu judulnya. Tapi, masih kata isteri, anak-anak muda di Padang dan kota lain –mungkin di Jambi juga– mengenal baik karya Roidah. Oh, ya Roidah memang kelahiran Minangkabau, rekan satu kampus isteri.

Penasaran, aku searching lewat Paman Google. Maka, berjumpalah aku dengan buku berjudul Really I Love You terbitan Yayasan Obor. Hebat. Ia memang belum masuk jajaran Djenar Maesa Ayu atau Dee apatah lagi Hilman dan Zara Zetira. Tetapi, dia sangat bangga dengan karyanya walaupun dia tidak begitu tahu bagaimana cara menyatakan kebanggaannya itu. Dari Paman Google lagi aku tahu bahwa ia juga penulis Love Me, Save Me (penerbit Diva) dan Menyalakan Matahari (penerbit Labuh). Coba, bagaimana dia tidak harus berbangga hati? Apalagi, dari isteri aku dengar dia sudah menerbitkan sembilan novel. Sekali lagi, hebat.

Ketika berkunjung ke rumahku dua hari lalu, dia sempat mengetahui bahwa aku juga suka menulis cerpen dan puisi. Lalu dia, berkata, “Potensial itu. Kenapa tidak diterbitkan?” Lalu aku bilang, “Kalau menerbitkan sendiri, tidak terukur. Bila ada yang membaca puisi atau cerpenku lalu minta izin diterbitkan, baru aku mau, walaupun penilaian orang yang hendak menerbitkan itu juga belum tentu baik.”

Kami sempat cerita panjang lebar. Nah, belakangan aku mengira bahwa yang dia maksud tentang aku bukan seperti penafsiranku. Mungkin ia memintaku untuk terus menulis lalu menerbitkannya, seperti yang dia lakukan. Well, aku cerita ke dia bahwa aku ternyata suka bosan kalau menulis fiksi. Tidak heran bila setiap kali menulis cerita, ending-nya sering-sering seperti menukik. Ide yang berloncatan di kepalaku tidak didukung kesabaran dan ketelatenan. Nah, aku belum bisa menjadi penulis fiksi yang serius, kan?

Roidah yang potensial untuk itu. Lihat saja, dia rela meninggalkan kerjaan dengan gaji yang menurutku sangat menggiurkan di Jambi hanya untuk kembali ke Padang, menulis dan mengelola penerbitan. Begitu rencananya selain hendak menikah. Tugas asisten komunikasi di salah satu LSM yang didanai pihak asing di Jambi dia tinggalkan. Ya begitulah. Profesi dan pekerjaan adalah pilihan hidup. Sekali Roidah memilih begitu, nama dan karyanya bisa lebih besar, aku yakin.

So, Roidah. Bukan karena sombong aku belum pernah membaca bukumu, seperti aku juga belum pernah membaca buku Meiliana K Tansri yang terang-terangan beredar di sekelilingku. Mungkin akunya saja yang kurang peduli dengan novel remaja sejak beranjak dewasa. Kalau ke toko buku belakangan ini, aku malah banyak memilih buku-buku dewasa yang serius, sesuai umur. Ceilah…

Salam, selamat berkarya. Terima kasih sudah memotivasi aku dan isteri untuk menulis fiksi.

 

Iklan

5 thoughts on “Roidah sang Novelis

  1. semoga Allah selalu memudahkan segala urusan dan langkah untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s