Salut, Budi Putra

“Please allow me to talk about myself on this occasion. I already decided to quit from my existing job as a journalist with Tempo, Indonesia’s most respected general affairs magazine, and turn independent writer and full-time blogger. “

Itulah tulisan Budi Putra yang terakhir aku baca di toekangIT.

Salut. Ini kata pertama yang keluar dari mulutku saat tahu Budi Putra begitu –memutuskan untuk meninggalkan dunia media cetak dan beralih ke dunia media internet-based.

Lebih lengkap tentang Budi Putra di sini:

Budiputra.com
Toekang IT at CNET Asia
Thegadgetnet.com
3GWeek.NET

Aku bicara sedikit tentang Budi bukan hanya karena dia seorang blogger yang aku iri melihat sepak terjangnya atau karena ia seorang jurnalis di media sekelas Tempo. Lebih dari itu, telingaku pernah akrab dengan namanya saat aku kuliah di Padang. Seorang rekan, Ben Adriansyah –entah di mana pria berkacamata tebal kelahiran Payakumbuh itu sekarang– sering kali bercerita tentang si Budi ini. Kala aku masih kuliah itu, kurun 1991-1994, si Ben ini teman sekaligus pengagum si Budi itu.

Di pengujung masa kuliah, aku mendengar Budi menjadi wartawan di Singgalang, bersamaan dengan aku mendengar kabar Suhatman Pisang menjadi wartawan di Canang. Karena sejak lama bercita-cita menjadi wartawan, cerita tentang sosok-sosok seperti mereka berdua ini memang menarik perhatianku. Lebih menarik lagi saat tahu si Budi ke Jepang untuk suatu program fellowship (?).

Tapi sampai sekarang aku tidak pernah benar-benar mengenal Budi Putra yang sering dikisahkan si Ben itu. Pernah, kami hampir bertemu di tempat kos si Ben di dekat pantai Muaro, Padang. Sore itu, kata Ben, Budi entah di mana sehingga tidak mengunjunginya. Aku lalu menculik sebuah buku di kamar Ben yang jorok –maaf Ben, ini benar kan?– yang kata Ben punya si Budi. Kalau tidak salah buku itu adalah novel (atau kumpulan cerpen?) Putu Wijaya. (Bukunya tidak aman karena dipinjam seseorang dan tak pernah kembali).

Entah Ben benar-benar kenal Budi; entah Budi yang ini yang dimaksudkan Ben; entah, yang jelas si Budi ini membuatku iri sejak lama. Saking irinya, egoku bicara agar aku tidak mencoba mengontaknya dan belajar menjadi seperti dia.

Ketika mendengar kabar dia mundur dari Tempo, aku langsung bertanya, bagaimana Budi bisa hidup dari blog ya? Bagaimana dia berani memutuskan menjadi blogger sejati? Bagaimana caranya aku bisa memiliki keberanian seperti dia juga, ya?

Sungguh, aku tidak sabar melihat kesuksesannya, lalu membaca wawancara di mana-mana tentang kiatnya.

Banggalah Indonesia, banggalah blogger dunia!

fotonya aku ambil tanpa izin –mohon maaf– dari sini.

Iklan

8 thoughts on “Salut, Budi Putra

  1. Dear Joni Rizal:

    Benar, saya adalah si Budi yang diceritakan itu! Hehehe… jadi bernostalgia nih saya! Saya memang temennya Ben Adriansyah (yang kabarnya sudah menikah dan kini berdomisili di Jakarta).

    Terimakasih, posting Anda ini adalah sebuah tulisan yang bagus mengenai salah satu sisi perjalanan hidup saya ketika masih di Payakumbuh.

    Sungguh, Anda punya kemampuan menulis yang bagus! Jadi teruslah ngeblog!

    Btw, soal bagaimana nanti kisah saya sebagai full-time blogger, doakan sukses ya!

  2. Hai,
    Akhirnya Anda menemukan dan menyapaku juga. Salam kenal. Tabik, Ndan… he he he.

    Aku rindu dengan Ben karena dulu kami cukup akrab, terutama bila bicara soal seorang cewek semasa kami masih kuliah di Padang. Hal lain yang membuat kami akrab karena Ben dan aku sama-sama penikmat sastra. Kalau bertemu, tolong sampaikan salamku, ya.

    Tahu tidak, bahwa aku dulu bercita-cita menjadi wartawan Tempo dan karena itu sangat iri ketika tahu Anda justru mampu melepaskan diri dari majalah sebesar itu? Nasib dan pilihan hidup yang menentukan, tentu, ya?

    Satu lagi yang membuat aku iri dengan Anda adalah kenyataan bahwa Anda juga ngeblog bahasa Inggris. Aku kuliah bahasa Inggris, tapi malah tidak melakukan hal serupa.

    Melihat prosesnya, aku sangat yakin Anda bisa sukses sebagai blogger sejati. Aku hanya tidak bisa membayangkan apakah semudah membalik telapak tangan atau harus melalui malam-malam tanpa tidur sebelum Anda memutuskan menjadi profesional blogger.

    Btw, banggalah menjadi Budi Putra dan sudah barang tentu aku doakan sukses.

    Salam.

  3. Aku sedang menghidupi diri dan keluarga di Jambi sementara ini. Sure, we have to meet. Kayaknya kita mesti bertukar nomor ponsel nih atau saling kontak email. Kotak suratku aku titipkan di sini: jorizal03@yahoo.com. Salam, keep blogging too and keep moving!

  4. Ping-balik: I Just Found Asia Blogging «

  5. hehe. aku generasi keberapa ya mengenal budi putra? tapi ia motivator kita dulu di kampus mimbar minang.
    salam buat beliau dari saya yang sekarang lagi sebel buanget dengan musim yang mendingin di gwangju korsel.

  6. Perkenalkan,nama saya:Ricky Suhandi,saya ingin menawarkan sistem perdagangan berjangka,jika anda berminat,harap hubungi saya di nomor telepon:08567272981.Kita bisa bertemu di kantor saya:MONEX INVESTINDO FUTURES,Wisma Kyoei Prince Lt.9,Jl.Jend.Sudirman Kav.3 Jakarta 10220,Indonesia untuk penjelasan lebih lanjut.Kapan kita bisa bertemu?Atas perhatiannya,saya ucapkan terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s