Belajar dari Holy Blood, Holy Grail

Tuntas juga aku menyusuri bab demi bab buku tebal Holy Blood, Holy Grail yang terkenal itu –thanks to Tubagus Dedy (Metro TV), yang merelakan bukunya menginap di Jambi untuk beberapa saat; thanks juga untuk isteri yang sudah “merayu” Tubagus untuk memberi perpanjangan waktu bukunya menginap. Beruntungnya, itu bukan buku berbahasa Inggris, tetapi hasil terjemahan yang cukup bagus.

Sekadar mengingatkan, buku karangan keroyokan Michael Baigent, Richard Leigh, and Henry Lincoln inilah yang banyak mengilhami Dan Brown saat menulis The Da Vinci Code –atas ini, Brown pernah digugat ketiga penulis Holy Blood, Holy Grail.

Bukan karena buku itu mengungkap fakta-fakta “asing” tentang sejarah Yesus dan Kristen –yang notabebe bukan agamaku– yang menarikku untuk mencermati buku itu. Bukan itu saja. Satu hal yang aku petik dari buku itu adalah kemampuan para penulisnya berinvestigasi dan menuliskannya dengan gaya jurnalistik yang –wow!—sangat mengundang decak kagum.

Aku seorang wartawan, yang rasanya belumlah mampu menggali sumber informasi begitu dalam dan menulis seperti yang dilakukan trio sosok terkenal itu. “Holy Blood, Holy Grail merupakan contoh kuat investigative journalism….” tulis Alex Burns di situs disinfo.com. Buku itu ditulis begitu mengalir sekaligus mendebarkan. Kemampuan investigasi dan olah papar trio penulisnya dijalinkulindankan dengan teori konspirasi agama yang mengguncang kaum Nasrani.

Ada keahlian kemampuan akademis, oleh literatur dan observasi tempat atau lokasi yang sering diabaikan wartawan saat ini. Ada pula alur cerita yang kuat, dengan sekian banyak rujukan. Unsur sastra mendominasi gaya penulisan.

Standar Robert Greene sangat lekat dengan ketiga penulis buku ini:
1. karya asli, bukan hasil investigasi orang lain;
2. mempengaruhi sosial mayoritas pembaca;
3. ada pihak yang mencoba menyembunyikan hasil investigasi itu

Mereka menyuguhkan fakta untuk merangsang setiap pembaca. Seperti membaca majalah Tempo, memang. Soal jurnalisme investigasi ini bisa dibaca di sini, sini dan sini.

Terus-terang, satu hal yang tidak membuat nyaman saat membaca buku bertebal ratusan halaman ini adalah banyaknya catatan kaki (foot note).

Siapa para penulis itu? Michael Baigent seorang wartawan foto asal Selandia Baru. Yang menautkan dia dengan dua rekannya itu adalah pengalamannya menggarap proyek Ksatria Templar, satu kelompok yang dikenal sebagai penjaga garis darah Yesus. Sedangkan Richard Leigh lebih dikenal sebagai penulis novel dan cerita pendek. Mau tahu siapa pula Henry Lincoln? Dia lebih dikenal dengan nama Henry Soskin, seorang aktor yang belakangan lebih dikenal sebagai penulis.

Sejak awal diterbitkan di Amerika pada 1982, buku ini langsung mengundang kontroversi, terutama karena keberanian para penulis menyuguhkan fakta-fakta baru, lalu mengambil kesimpulan, walaupun ada kalanya mereka ragu-ragu. Soal penyaliban Yesus, misalnya. Mereka berani membeber fakta-fakta untuk mendukung thesis mereka bahwa Yesus tidak mati disalib lalu bangkit lagi. Juga tentang isteri Yesus, Maria Magdalena, yang konon melarikan diri ke Prancis membawa rahasia yang disebut cawan suci (holy grail) dan juga dipercayai sebagai darah suci (holy blood).

Ada sedikit latar tentang Perang Salib dan Rennaisance plus latar perpolitikan modern di Israel dan Palestina atau Barat vs Islam. Ada pula kaitannya dengan de Gaulle, Newton, dan Leonardo Da Vinci.

Ulasan tentang buku ini dan kaitannya dengan The Da Vinci Code bisa disimak di Ruang Baca Koran Tempo. Simak juga di blog seseorang bernama Akmal ini.

Alangkah bahagianya bila teman-teman di kantor mau belajar investigasi dari tiga penulis yang ternyata tidak mengawal karir sebagai jurnalis itu. Atau, paling tidak, mereka baca-baca teori tentang jurnalisme investigasi untuk diterapkan sehari-hari. Jangan malas. Lihat Tubagus Dedy, saat sedang meliput ke pedalaman hutan Jambi pun dia masih belajar dari buku tebal itu. Sekali lagi, thanks, Bos.(*)

Iklan

2 thoughts on “Belajar dari Holy Blood, Holy Grail

  1. wow..senang sekali bsa dapet bukunya…kebetulan saya jga kena dan brown’s effect buat mempelajari sejarah. dan mungkin masih terbatas literatur yang ada baek saya pinjam di perpustakaan umum ataupun beli sendiri dengan budget terbatas…

    buku macem Lynn Picket, Charles pallegrino masih belum menghentikan penasaran saya dengan Holy Blood yg jadi rujukan Brown’s..Kiranya bisa kasih saran ato mungkin link buku itu…tentu dengan bhasa negeri sendiri…maklum bhsa inggrisnya msh level beginner…thanks ya…Good works

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s