Ingusan dan Cabe-Tomat

tomat-be.gif

Bagi keluargaku, hari raya kali ini memang lebih raya. Seluruh cucu (kecuali satu), anak dan menantu kumpul di rumah ortu pas hari “H” –kami salat Idul Fitri pada Sabtu (13/10).

Ini pertama kali kami bisa kumpul semua setelah bertahun-tahun aku, adik dan kakak melewati masa remaja. Maklum, kami mencari hidup di mana-mana, di berbagai kota. Ada 10 cucu (sembilan yang kumpul), enam anak dan lima menantu.

Rumah yang ditempati ortu berada di sebuah desa di kaki Gunung Kerinci. Rumah sederhana, berdinding papan, yang pintu belakangnya langsung menghadap ke kebun.

Di halaman belakang, di sela pembibitan cabe, ada sedikit ruang untuk memasang ayunan dan papan jungkat-jungkit. Ini sebenarnya alat permainan untuk sebuah taman wisata yang sengaja disimpan di rumah ortu. Anak-anak suka bermain di belakang rumah.

Rumah itu sempit, tapi tamu yang datang banyak. Tak salah kalau para cucu terheran-heran. “Rumah kecik tamunyo banyak nian,” cetus salah satu dari para cucu yang mudik dari Palembang.

Karena sempit, untuk tidur malam kami harus ngungsi ke rumah ortu yang satu lagi. Rumah yang ini dekat pasar dan ramai lalu lintas. Makanya kami tak suka di sana pada siang hari. Tetapi, karena kamarnya banyak, maka jadilah ia tempat istirahat pada malam hari saja.

Sudahlah hawanya dingin, air di kaki gunung itu juga dingin minta ampun. Jarang sekali aku mandi pagi. Semasa SMP, biasa sekali aku mandi air sedingin itu. Tapi kini, bahkan pada siang hari, air mandiku harus dicampur air panas biar hangat. Airnya lancar sekali, langsung mengalir dari mata air.

Walaupun dinginnya sampai ke sumsum, cucu-cucu, anak dan menantu yang dari kota berhawa panas tetap saja riang gembira. Tidak ada yang sakit, kecuali ingusan. Aku pun ikut ingusan karena kedinginan.

Karena dingin, aku tidak suka makanan khas hari raya. Aku dan iparku paling suka cabe-tomat-ikan teri. Tomatnya bukan tomat besar, tetapi tomat kecil-kecil yang sering disebut kemir alias terung aka alias terung asam alias cung kediro. Sayurnya labu siam alias jipang kalau tidak selada air.

Nasinya harus panas. Kalau sedang lahap makan, ingus kami berleleran. Jadilah kami, keluarga besar itu, seperti anak-anak semua. Tapi, biar ingusan dan kepedasan, yang penting sang kakek dan nenek senang di hari raya ini. Betul tidak?

Oh, ya. Selamat Idul Fitri untuk semua yang merayakan. Mohon maaf lahir dan bathin.

Iklan

2 thoughts on “Ingusan dan Cabe-Tomat

  1. Selamat IDul fitri too. Maaf lahir batin.
    Lebaran bersama orang tua, keluarga memang dambaan mereka yang jauh dari orang tua.
    Seperti isteriku, lebaran ini genap satu tahun kurang dua bulan ia berpisah dari orang tuanya. Makanya ia selaku anak bontot, ngotot ingin pulang kampung di Mojokerto, JAwa Timur sana. Meskipun aku tak mengantongi izin dari kantor. Belumlagi ongkos yang menguras kristalan kerja keras.

    Tapi untungnya, bang Joni kasih solusi. Meski tanpa izin, memanfaatka libur kantor. Akhirnya pulang juga ke kampung isteri. MEskipun terseok-seok, karena sehari sebelum berangkat tiga malam aku terbaring di rumah sakit.

    Kalau bang Joni saat lebaran makannya lahap, aku kebalikannya. Maklum Jawa, selera manis,.. jadilah aku berlebaran tak berselera makan.:)
    Untungnya mertua mengerti, selang dua hari menu berubah, selera makan jadi bertambah šŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s