Dan, Merah Putih pun Heran

bangunlah jiwanya, bangunlah badannya
untuk Indonesia raya…

(dari lagu Indonesia Raya)

Dari dulu jiwa bangsa ini rusak. Dari dulu badan bangsa ini bopeng, korengan.

Itulah sebabnya, setiap ultah kemerdekaan warga Indonesia diminta bersemangat membangun negara ini. Rakyat miskin diseru untuk bangkit; orang kecil dielu-elukan sebagai pahlawan ekonomi –lewat program yang disebut ekonomi kerakyatan.

Lalu, ketika hari Sumpah Pemuda, yang diperingati setiap 28 Oktober, orang-orang muda dijago-jagokan sebagai kelompok yang sangat berarti memperbaiki negeri ini dari kekuasaan yang korup, tiran.

Semua itu, sejatinya, untuk membangun jiwa bangsa ini yang rusak dari dulu, jauh sebelum lagu Indonesia Raya diciptakan. Semua itu untuk menyusun kembali serpihan-serpihan negara yang centang-perenang ini. Dus, agar orang miskin berkeyakinan bahwa bekerja bisa membuat kaya, agar orang muda terus merasa bahwa banyak berbuat di masa muda bermanfaat di hari tua.

Tapi yang kaya kian rusak jiwanya, walau mulus badannya. Punya rumah bagus, jabatan top, fasilitas pribadi dan kantor mewah, tapi tak berjiwa luhur untuk membangun bangsa ini. Tapi, yang tua semakin kacau saja kelakuannya, bermental korup, bermoral hancur.

Maka, ketika yang kecil membangun jiwa negeri ini (yang prestasinya ditunjukkan dengan banyaknya penghargaan bagi rakyat kecil); dan peran pemuda dianggap  begitu penting dan hebat dalam menegakkan kembali citra negeri ini (yang antara lain ditunjukkan dengan tumbangnya rezim Orde Baru pada 1998), orang-orang besar dan tua justru merusaknya.

Lalu yang kecil terjepit lagi, kembali menjadi koreng bangsa, menjamur. Yang disalahkan orang kecilnya. Lalu, pemuda digencet lagi, hilang suara. Yang disalahkan pemudanya yang dianggap tidak pengalaman.

Padahal kalangan tualah yang mati-matian menjegal prestasi kaum muda. Munir saja ditakuti, lalu diracun. Slank dikeroyok rame-rame oleh politisi gaek dari Senayan. Padahal mereka bersuara apa adanya. Heran.

Maka setiap kali jiwa dan badan bangsa ini dibangun oleh kaum kecil dan kaum muda, selalu saja ada kaum tua berengsek yang menggerogotinya. Maka, bendera kita memang berkibar, tapi berkibar karena heran, tak habis pikir karena terus-menerus mendengar pertanyaan seperti ini, “Mau jadi apa anak cucu kita?”

Iklan

5 thoughts on “Dan, Merah Putih pun Heran

  1. Pemuda dan kaum proletar menjadi komoditas politik, guna mengeruk kekuasan dan kekayaan bagi sekelompok orang2 tua dan merasa berhak mengatur negara ini. Mungkin lagu kebangsaan tersebut perlu direjuvinasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s