Transportasi Masal Itu Mutlak

Mass-Transit[1]

Gubernur Jakarta Jokowi pernah disibukkan dengan wacana lanjut tidaknya proyek transportasi publik monorel. Dengan tegas, akhirnya Jokowi menyatakan bahwa proyek yang mangkrak sejak zaman Gubernur Sutiyoso itu akan dilanjutkan. Sebuah pilihan bijak untuk mengurangi kemacetan Jakarta, meleset jauh dari kemauan banyak pihak. Sebagian kalangan, terutama pengusaha otomotif, diam-diam menghendaki rekayasa lalu lintas untuk mengurangi kemacetan, bukan dengan memperkuat transportasi publik atau transportasi masal.

Coba baca artikel ini untuk referensi tentang transportasi publik: http://en.wikipedia.org/wiki/Public_transport

transit

Sewaktu waktu, di kantor saya melemparkan wacana agar media mendorong munculnya transportasi masal di Kota Jambi. Penyedianya bisa pemerintah provinsi atau pemerintah Kota Jambi. Saya katakan, transportasi masal itu mutlak ada di semua kota provinsi di Indonesia, termasuk di Kota Jambi yang setiap tahun tumbuh begitu pesat. Entah mengerti entah tidak maknanya ke depan, sebagian teman mengangguk-angguk. Sebagian lain ternyata lebih berpikiran maju dengan mewawancara beberapa pihak, termasuk pejabat pemerintah dan anggota legislatif. Anehnya, tidak seorang pun wartawan yang berinisiatif membuat berita untuk mendorong pentingnya transportasi masal ini.

Saya tida menyalahkan rekan-rekan sekantor saya itu. Media-media lain di kota ini juga tidak banyak mendorong perlunya transportasi masal. Bila ada pemimpin redaksinya atau redakturnya berpikiran sama dengan saya, kemungkinan mereka tidak tahu harus memulai berita itu dari mana. Kemungkinan juga mereka kurang memahami bahwa transportasi masal dalam kota itu merupakan andalan kota-kota maju di dunia. Kemungkinan juga mereka tidak tahu seperti apa bentuk dan konsep transportasi masal itu.

Di sisi lain, masyarakat Jambi, sebagian besar sangat jauh dari pikiran menggunakan transportasi masal itu. Mereka lebih suka memakai mobil pribadi atau sepeda motor bila bepergian.

TransJakarta_Articulated_Bus

Lewat tulisan ini, saya mencoba memberikan pemahaman kenapatransportasi masal itu diperlukan. Saya mulai dengan memberi contoh di kota Jakarta lagi. Betapa sekarang banyaknya orang yang merasa nyaman naik bus Damri dari Bandara Soekarno Hatta ke berbagai bagian kota Jakarta. Saya sendiri termasuk orang yang sering bepergian dan menjadi pengguna setia bus Damri dari Cengkareng ke Blok M, Gambir dan bagian-bagian lain ibukota. Tarifnya murah, sekitar Rp 20 ribu sampai ke Gambir atau Blok M –bandingkan dengan naik taksi yang bisa mencapai Rp 150 ribu. Busnya full AC, sejuk. Penumpang tidak reseh, aman pula. Mudah diakses; turun dari pesawat keluar pintu kedatangan, langsung bertemu dengan terminal bus Damri. Kalau pun harus menunggu, paling-paling 10 menit.

Itu dari bandara. Di dalam kota, cobalah anda naik TransJakarta –yang selalu disebut busway– itu. Mudah, cepat, dengan rute dan jalur yang jelas. Aman juga. Praktis dengan tersedianya bus-bus tersebut, tak perlu lagi lah orang-orang Jakarta mau ke kantor bawa-bawa mobil pribadi atau motor. Karena dipelopori pemerintah, tarif TranJakarta juga murah.
Di Surabaya, saya juga menemukan bus Damri yang nyaman menjadi pilihan banyak orang untuk beraktivitas sehari-hari. Saya ingat dulu sering bepergian dari gedung Graha Pena Jawa Pos ke arah Tunjungan dengan Damri. Untuk pendatang seperti saya, bus itu betapa bergunanya. Bayangkan kalau seratus saja orang Surabaya sehari meninggalkan kendaraan di rumah dan bepergian dengan Damri, berapa banyak kepadatan lalu lintas terkurangi? Belum lagi bagi pekerja luar kota, semisal arah Sidoarjo, yang disediakan kereta api commuter, yang juga mengurangi pemakaian kendaraan pribadi yang pada gilirannya mengurangi kepadatan lalu lintas dan…. mengurangi polusi!

Pernah ke Singapura? Di kota ini, mobil pribadi sehari-hari digantikan oleh kereta monorail, mass rapid transport (MRT), serta bus, termasuk bus bertingkat. Saya pernah ke Hongkong dan menyaksikan sistem transportasi serupa, mulai kereta api biasa yang nyaman, sampai kereta cepat dan bus bertingkat. Dari Shenzen ke Hongkong itu bila naik kereta api betapa nyamannya. Betapa mudah dan murahnya pula harga tiketnya. Orang-orang berdasi, penjual boneka, mahasiswa, pekerja rumah tangga, bos-bos perusahaan, duduk bersama para wisatawan luar negeri di dalam moda transportasi tersebut. Mobil-mobil mereka ditinggal di rumah. Sementara, anak-anak mereka bersekolah dengan bus sekolah, bukan dengan mobil pribadi dan sepeda motor seperti yang terlihat di kebanyakan kota di Indonesia, termasuk di Jambi.

Di Facebook, beberapa teman saya di Eropa dan Amerika sering memamerkan foto-foto mereka bepergian dengan bus dan kereta api. Bukan karena mereka tidak punya mobil pribadi, bukan. Tetapi karena mass transport itu sudah menjadi andalan di kota-kota sebesar Amsterdam, Frankfurt, New York, dan lainnya. Sesekali saya melihat mobil pribadi teman-teman saya itu muncul di foto yang dipajang di Facebook, yakni saat mereka berakhir pekan di areal-areal perkebunan pinggir kota.

public_transportation_tourism_069524

Maka, alangkah terbelakangnya para pemimpin kita, pejabat pemerintah dan politisi di Provinsi Jambi dan Kota Jambi ini bila tidak pernah memikirkan –apatah lagi merencanakan—untuk mengedepankan transportasi masal. Betapa naifnya Anda para pengambil keputusan bila terlena dengan upeti dari para dealer kendaraan, tanpa pernah memikirkan untuk mengurangi pemakaian kendaraan dengan proyek transportasi masal. Selain Jakarta dan Surabaya, sebagian kota sudah merintis transportasi masal ini, seperti Trans Musi di Palembang, Trans Manado, dan Trans Riau.

Satu hal lagi, transportasi masal mampu membuat negara menghemat jutaan liter minyak per tahun. Sesederhana itu.[jr]

Iklan

One thought on “Transportasi Masal Itu Mutlak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s