Ini Oktober 2015

(Tulisan ini pernah dimuat di JambiBisa.com, Oktober 2015)

Saya menandai bulan ini dengan baik. Inilah bulan di mana kabut asap dengan indeks standar pencemaran udara (ISPU) mencapai level sangat berbahaya, seringkali di atas 500. Inilah bulan di mana kebakaran lahan dan hutan tak jua berhenti, terjadi sejak dua bulan lalu, tetapi Pj Gubernur Jambi Irman –pengganti sementara gubernur sebelumnya yang mencalonkan diri lagi– pernah menganggap ini hal yang amat remeh dan sepele.

Inilah bulan dimana ekonomi Indonesia memburuk, dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar masih di atas Rp 13.000. Pada bulan sebelumnya bahkan selalu di atas Rp 14.000. Inilah bulan di mana pemecatan alias PHK alias pemutusan hubungan kerja terjadi di mana-mana, tetapi pernah dibantah oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Inilah bulan di mana daya beli masyarakat menurun. Dagangan banyak tidak laku. Industri lesu.

Inilah bulan di mana harga-harga komoditas petani anjlok. Tandan buah segar (TBS) sawit mencapi Rp 450 per kilogram, karet Rp 5.000. Inilah bulan di mana hasil panen banyak gagal. Inilah bulan di mana, jangankan memanen, menanam pun petani tak bisa karena tanah-tanah kering kerontang. Inilah bulan di mana sungai-sungai, sumur-sumur bahkan danau-danau mengering.

Saya menandai bulan ini dengan baik.

Inilah bulan di mana anak-anak sudah hampir tiga bulan sekolahnya “tidak benar” lagi. Masuk sehari libur seminggu, lalu libur lagi, lagi dan lagi, karena kabut asap sangat membahayakan mereka. Inilah bulan di mana banyak orang sakit tenggorokan, terkena infeksi saluran pernapasan atas alias ISPA. Banyak pula yang terkena asma, sesak napas dan batuk-batuk. Sebagian sakit di mata dan gatal-gatal.

“Ya, Allah,” tulis banyak orang di BBM, Facebook, Twitter dan lain-lain media, “berilah kami hujan, hilangkanlah kabut asap ini.” Di banyak tempat orang-orang menggelar salat istisqa. Umat-umat agama lain juga berdoa meminta hujan dan dihilangkannya kabut asap.

Tetapi Allah belum menjawab doa orang-orang. Lama sekali Tuhan tidak menurunkan hujan. Katanya El Nino membuat turunnya permukaan air laut sehingga mengurangi penguapan untuk awan hujan. Mau dipancing pakai garam agar hujannya turun juga tidak bisa karena tidak ada awan yang potensial untuk itu. Entah kapan El Nino itu akan berlalu.

Pernah sekali dalam bulan ini, bulan Oktober ini, turun hujan. Tapi, turunnya hanya untuk satu atau dua desa/kelurahan saja. Atau paling luas satu atau dua kecamatan saja. Tidak ada kabar satu kabupaten atau satu kota hujan. Jangan bayangkan hujan turun mengguyur satu provinsi atau serentak se-Indonesia ini. Tidak sama sekali.

Inilah bulan di mana rakyat kesulitan mendapatkan air bersih. PDAM Tirta Mayang di Kota Jambi tak bisa mendapatkan suplai karena Sungai Batanghari susut drastis. Entah kenapa mereka, orang-orang di PDAM itu, tidak bisa mencari solusinya. Entah kenapa mereka tidak pernah mau memikirkan antisipasi sebelum datang musim kemarau. Sehingga, berminggu-minggu, berbulan-bulan, PDAM tidak menyuplai air ke rumah warga. Warga harus membeli dari penyuplai swasta. Untuk 1.000 liter harus membayar Rp 60-120 ribu. Itupun harus antre. Ngantrenya bisa sampai seminggu. Gila!

Banyak orang tidak mandi, tidak mencuci, tidak wudhu, bahkan tidak cebok dan tidak masak, karena sulitnya mendapatkan air –entah bersih, entah setengah bersih. Kalau masih bisa mandi, frekwensinya dikurangi, dari tiga atau dua kali sehari menjadi sekali saja. Baju main anak-anak sering dipakai untuk dua hari, padahal biasanya sehari bisa dua kali ganti. Edan!

Saya mengingat bulan ini dengan baik. Bulan di mana Presiden Jokowi sudah tiga kali batal ke Jambi untuk menjenguk rakyatnya. Pesawatnya tak pernah bisa mendarat. Jarak pandang di Bandara Sultan Thaha Jambi seringkali di bawah 1.000 meter, bahkan sering pula di bawah 500 meter. Sudah hampir tiga bulan Bandara Sultan Thaha ditutup.

Orang-orang dari Jakarta dan Batam yang hendak ke Jambi dengan pesawat udara harus mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang, Sumsel. Konon, walau diselimuti kabut asap juga, bandara internasional itu memiliki instrumen yang bisa memandu pesawat mendarat bila jarak pandang memendek. Dari Palembang, penumpang harus naik mobil ke Jambi.

Konon pula, kabut di bandara itu juga tidak terlalu tebal walau kebakaran lahan dan hutan lebih banyak di Sumsel. Kata orang-orang, asapnya ditiup angin ke arah Jambi, Riau, hingga ke Singapura dan Malaysia. Entahlah.

Yang jelas, saya mengingat bulan ini dengan baik. Bulan di mana kolam ikan gurami kami gagal panen karena terserang jamur, senasib dengan petani-petani lain yang gagal panen karena kekeringan. Bulan di mana saya mendapat kabar adik ipar saya terkena PHK massal oleh perusahaan leasing tempatnya bekerja selama bertahun-tahun. “Ekonomi lesu, orang-orang sudah tidak banyak lagi yang membeli sepeda motor,” katanya mengadu ke isteri saya.

Inilah bulan di mana negara seperti membiarkan rakyatnya mati pelan-pelan. Jokowi tidak datang ke Jambi tidak apa-apa. Yang penting, perbaiki saja ekonomi negara ini; harga-harga hasil pertanian naik; perdagangan bergairah lagi;  api yang membakar lahan dan hutan padam, sehingga hilang kabut asap. Agar anak-anak bisa sekolah, tidak kena ISPA, tidak batuk dan tidak asma.

Pikirkan dong, Pak, bagaimana warga bisa mendapatkan air bersih dan hujan segera turun sehingga petani bisa menanam. Pikirkan bagaimana caranya biar tidak banyak pekerja yang di-PHK. Help! Help! Help! Dada kami sudah sangat sesak. Entah karena kabut asap, entah karena himpitan ekonomi, entah karena keduanya.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s