Makar Media

(Tulisan ini pernah dimuat di JambiBisa.com, November 2015)

Ada istilah baru –setidaknya bagi saya karena ini pertama kali saya mendengarnya– yang menculik pikiran saya sejenak beberapa hari lalu. Itulah “makar media”. Saya sebut “menculik” karena saya langsung dipaksa meninggalkan pekerjaan yang menumpuk untuk mencari tahu dan menulis kolom ini.

Entah karena pintar menciptakan istilah atau karena jengkelnya kepada media atau karena terlalu berapi-api, seorang orator unjuk rasa buruh di Istana Negara pada 28 Oktober lalu menuding media-media arus utama  telah berbuat makar (terhadap buruh). “Ini makar dari media mainstream. Mereka terlihat tidak ada yang meliput kita. Biasanya ada mobil-mobil stasiun televisi nongkrong dekat sini.”  Begitu pernyataannya seperti dikutip portal berita NBC Indonesia, Kamis (28/10).

Katanya, makar oleh media mainstream tidak akan pernah berhasil karena Allah yang maha sebaik-baiknya pembuat makar yang akan menang. Awalnya saya agak merasa lucu dengan istilah makar media itu. Tetapi setelah membaca habis beritanya, saya berempati juga.

Makar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai “akal busuk; tipu muslihat”; “perbuatan dengan maksud hendak menyerang (membunuh) orang, dan sebagainya”; dan “perbuatan menjatuhkan pemerintah yang sah”.  So, apa hubungannya dengan media?

Mari kita tinjau pengertian makar dari disiplin ilmu lainnya. Dalam hukum pidana, makar masuk ke dalam rumpun kejahatan terhadap keamanan negara. Secara teoritis, wujudnya adalah makar terhadap keselamatan presiden dan wakil presiden, terhadap wilayah negara, dan terhadap pemerintahan.

Mulai kelihatan kaitannya dengan media? Masih samar-samar.

Mari kita buka lagi bacaan lain. Saya menemukan defisi makar yang lebih luas pada postingan di blog ini (http://islaminstituthere.blogspot.co.id/2014/10/pengertian-makar-di-dalam-al-quran.html). Di sini, makar disebut konspirasi.

“Merujuk kepada Ensiklopedia Hukum Islam terbitan PT Ichtiar Baru Van Hoeve, kata makar berasal dari bahasa Arab al-makr, sama artinya dengan tipu daya/tipu muslihat atau rencana jahat. Secara semantik, makar mengandung arti: akal busuk, perbuatan dengan maksud hendak menyerang orang dan perbuatan menjatuhkan pemerintahan yang sah.  Makar dapat dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, didahului konspirasi politik, mufakat jahat, dan intrik….”

Baiklah sampai di situ dulu kita mencari definisi terminologis. Mari kita simpulkan saja: bahwa makar adalah rencana jahat yang didahului konspirasi. Ah, kalau itu sih sudah lama saya mendengar istilahnya. Sudah sejak lama ada konspirasi media di Tanah Air, untuk kepentingan ini dan itu, melawan kelompok si ini dan si itu, untuk menjatuhkan si anu dan si anu, dan lain-lain.

Makar media terjadi karena ada konspirasi media massa untuk berbuat jahat. Dalam konteks aksi buruh tadi niat jahatnya hanya bisa diraba-raba. Mungkin niat jahatnya datang dari petinggi media agar aksi buruh tidak diberitakan karena seperti menepuk air didulang, memercik ke muka sendiri. Kalau air danau yang jernih  sih tidak apa-apa. Bagaimana kalau air aki?

Gamblannya, kalau sampai unjuk rasa buruh itu diberitakan, isinya tentulah tuntutan yang sama dengan tuntutan para buruh media umumnya. Gaji kecil, misalnya, atau jam kerja yang tidak karuan. Sementara bos-bosnya memperkaya diri di atas penderitaan karyawannya.

Bisa jadi makar media terjadi karena pemilik media sudah bermufakat jahat dengan pemerintah, sebab tidak sedikit pemilik media yang berafiliasi dengan pemerintah, baik karena kepentingan bisnis maupun politik. “Tolong, unjuk rasa buruh di Istana Negara itu jangan dibesar-besarkan”. Misalnya ada permintaan seperti itu kepada media pro pemerintah, milik partai pemerintah, bagaimana coba?

Tetapi, janganlah kita menuding, janganlah suudzon. Dosa.

Hanya saja, bagi saya, tindakan media mainstream yang tidak meliput berita unjuk rasa buruh secara proporsional masuk kategori “dosa” juga. Dalam jurnalistik, saya termasuk idealis saklek (zakelijk idealist –ini istilah saya sendiri). Bagi saya, setiap peristiwa harus diberitakan apa adanya. Apa pun dampaknya, apa pun akibatnya.

Saya memandang people right to get informed atau hak masyarakat mendapatkan informasi itu harga mati. Tidak memberitakan suatu peristiwa itu adalah “dosa jurnalistik” yang selanjutnya menjadi “dosa media”. Nah, mungkin, mungkin lho ya, dosa media inilah yang oleh orator berapi-api tadi disebut makar.***

 

Iklan

One thought on “Makar Media

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s