Tentang “Berita Angkat Telur” dan “Berita Duit”

journalist-985077_960_720_web

foto by pixabay.com

Dua istilah dalam judul tulisan ini memang memakai tanda kutip. Kalau tidak memakai tanda kutip, saya khawatir maknanya menjadi berita tentang telur dan berita tentang duit. Padahal yang saya maksud bukan itu. Untuk frasa “berita duit”, misalnya, yang saya maksud adalah “berita yang berbau duit”. Nah, saya kasih tanda kutip lagi karena takutnya akan bermakna bau beneran. Tahu kan bau duit seperti apa? Pernah kan mencium bau duit? Nah, bukan itu maksud saya.

“Berita ngangkat telok” dan “berita duit” adalah dua istilah berasosiasi negatif yang akrab dengan kalangan media di Jambi. Telok dalam bahasa daerah ini berarti telur. “Berita angkat telok” bukanlah berita tentang seorang pesohor atau kelompok pesohor mengangkat telur, bukan pula tentang lomba mengangkat telur pada 17 Agustus untuk memecahkan rekor Muri.

“Berita ngangkat telok” mengacu kepada berita yang berisi pujian kepada pihak-pihak tertentu, misalnya pemerintah atau perusahaan atau pribadi, seperti bupati, kepala dinas, atau apa lah. Berita itu biasanya lemah pada nilai-nilai berita yang dianut umum di dunia jurnalistik.

Untuk Anda yang bukan jurnalis, atau jurnalis yang sudah lupa, baiknya saya jelaskan sedikit tentang nilai-nilai berita dalam dunia jurnalistik. Tetapi sebelum itu izinkan saya menguliahi Anda (mohon maaf, ya) tentang pengertian berita. Berita adalah laporan peristiwa yang bernilai berita, pada kesempatan pertama ditulis sebagai berita. Jadi, laporan peristiwa kalau tidak bernilai berita bukanlah berita; kalau pun bernilai berita, tetapi tidak ditulis pada kesempatan pertama juga bukan berita, tetapi berita basi; kalau pun bernilai berita dan sudah ditulis pada kesempatan pertama tetapi ditulis seperti skripsi juga bukan berita namanya. Begitulah sederhananya. Ingat, harus selalu ada peristiwa-nya, ya.

Kembali ke nilai berita. Untuk menentukan nilai berita ada acuan yang dipakai di dunia jurnalistik, antara lain: konflik, ketokohan pelaku (prominence), dampak atau pengaruh peristiwa (magnitude), aktualitas (timeliness), seksual, human interest (peristiwa yang menyentuh kemanusiaan), kedekatan (proximity), dan sesuatu yang aneh.

Perang itu berita (konflik) apalagi kalau perangnya di Lampung (proximity). Artis Julia Perez (prominence) liburan ke Kerinci saja jadi berita, apalagi kalau dia ikut perang (prominence+konflik), apalagi kalau beritanya dihiasi dengan fotonya yang seksi (nilai seksual). Berita tentang “esek-esek” (diam-diam) dibaca banyak orang karena ada unsur seksualnya. Human interest banyak contohnya, salah satunya adalah kisah seorang polisi yang menjadi pemulung. Itu beberapa contoh penjelasan nilai berita.

Kembali lagi ke “berita ngangkat telok” tadi, terkadang nilai beritanya tidak ada tetapi si wartawan menuliskan pujiannya setinggi langit dan si redaktur juga memolesnya sebaik melukis awan sehingga jadilah ia seperti iklan alias promosi belaka. Ia disebut “berita ngangkat telok” karena memang ditating dengan sangat hati-hati agar tidak jatuh dan pecah. Sebagai berita, ia ditulis dengan isi yang kesannya baik semua tanpa sedikit pun bolek memasukkan cela atau noda.

Biasanya tujuan “berita ngangkat telok” ini untuk mendapatkan imbalan, baik langsung maupun tidak langsung, baik untuk pribadi si jurnalis atau si redaktur maupun perusahaan medianya. Langsung bisa berupa amplop berisi uang. Kalau tidak langsung bisa berupa pemasangan iklan ke media yang memuat “berita ngangkat telok” tadi.  “Berita ngangkat telok” biasa dipakai untuk melobi agar pihak yang diberitakan mau beriklan.

“Berita duit” secara misi sebenarnya sama dengan “berita ngangkat telok”. Sama-sama berujung pada duit. Tetapi ada hal-hal substansial yang membedakannya. “Berita duit” seringkali samar dan mengandung nilai berita. Kalau suatu waktu Anda membaca berita di media tentang sebuah proyek yang diduga tidak sesuai bestek, tetapi hanya dimuat sehari saja, curigailah itu sebagai “berita duit”.

Bahwa ada proyek tidak sesuai bestek itu berita bagus, salah satu bentuk koreksi atau kontrol media terhadap kontraktor dan pemerintah. Tetapi kalau setelah sehari diberitakan lalu si kontraktor atau pejabat pemerintah pemegang anggaran proyek itu menutup laptop si jurnalis (tutup mulut itu untuk jurnalis yang berbicara) dengan uang dan berita itu lenyap seketika, di situlah ia “berbau duit”.

“Berita duit” bisa jadi sebuah agenda ruang redaksi atau perusahaan media. Beritanya tendensius. Misalnya, menyerang calon kepala daerah tertentu bertubi-tubi sampai sang calon menyerah lalu menandatangani kontrak pemasangan iklan; atau menyerang calon kepala daerah tertentu itu untuk memenangkan calon yang sudah beriklan di medianya dengan harapan setelah terpilih nanti kue iklannya akan lebih besar.

Wartawan kemaren sore bisa mendeteksi “berita ngangkat telok” dengan mudah, tetapi hanya wartawan tertentu yang bisa mendeteksi “berita duit”.

Apakah itu dosa? You know the answer. Bila Anda wartawan atau calon wartawan, saya hanya mengingatkan janganlah menulis secara tendensius dan mengabdi kepada materi sehingga mengebiri public right to get inform atau hak masyarakat untuk mengetahui. Menulislah demi memperjuangkan keadilan dan kebenaran.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s