Boro-boro Full Day, di Sini Muridnya Diuber Masuk Hutan

Maunya saya soal full-day school itu tidak usah diperdebatkan (dulu). Lebih baik mana, diskusi soal full day atau tidak full day sementara di pedalaman masih banyak anak yang tidak terjamah pendidikan sama sekali?

Kenapa menurut saya full day school itu tidak usah didiskusikan? Anak-anak saya bersekolah di sekolah yang sejak lama full day. Kelas satu saja sudah berada di sekolah sampai pukul 13.30. Hati-hati, ya, frasa saya adalah “berada di sekolah”, bukan “dicekoki pelajaran”. (Saya sangat khawatir ada haters yang membelokkan kata-kata saya). Anak saya yang kelas lima “berada di sekolah” sampai pukul empat sore. Saya tidak keberatan walau dalam kenyataannya biaya sekolahnya relatif mahal. Saya puas.

Sekolahnya masuk ke dalam Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT). Selain mata pelajaran berbasis kurikulum nasional, sekolah ini mengajarkan anak-anak membaca dan menghafal Alquran serta beribadah secara intensif.

Saya gembira karena setiap saya datang menjemput mereka, anak-anak saya dan teman-temannya masih saja bermain dengan senang dan lincahnya –tidak menunjukkan kelelahan dan kebosanan seperti yang dikhawatirkan banyak kalangan.

Kenapa bisa begitu? Sebagai sekolah Islam, ada banyak sekali kegiatan di sekolah yang berisi praktik ibadah, pelajaran budi pekerti, keterampilan, dan beragam kegiatan ekstra kurikuler yang tidak membuat anak-anak jemu. Pagi, misalnya, ada sesi ibadah salat Duha.

Ada pula pelajaran ibadah salat dan hapalan atau murajaah. Siangnya, ada sesi salat zuhur berjamaah (atau tidak) yang waktunya lumayan panjang karena dirangkai dengan jam makan atau istirahat siang. Lapangan olahraganya selalu terisi berbagai kegiatan olahraga.

Laboratorium dan perpustakaannya juga selalu aktif. Ada kegiatan seni, mulai dari berlatih alat-alat musik hingga melukis, teater, fotografi hingga membuat film.

Anak-anak saya fun-fun saja, saya pun senang. Karena itu, ketika ada yang memprotes kebijakan full day school, saya heran dan –terus terang— agak sinis. Anak-anak saya sudah lama di full day school, tetapi kenapa orang-orang yang belum mencobanya sudah resisten duluan?

Saya curiga. Jangan-jangan resistensi itu digembar-gemborkan para guru yang tidak mau atau tidak siap mendampingi anak-anak muridnya secara full day. Jangan-jangan mereka bingung mau diapain anak murid selama itu di dalam lingkungan sekolah. Tidak full day saja sudah pusing! Jangan-jangan lho ya…. Jangan-jangan….

Tapi entahlah. Tentu setiap orang boleh berpendapat untuk kebaikan pendidikan di negeri ini. Bagi saya full day yang diterapkan di sekolah anak saya selama ini oke-oke saja. No problemo.

Yang jadi masalah, kita latah diskusi full day school, tetapi di tempat lain yang less school tidak kita diskusikan seintensif itu.  Soal full day, menterinya kita protes, atau bahkan kita hujat. Sesekali kita menyalahkan Presiden. Tetapi ratusan bahkan ribuan anak pedalaman tidak sekolah kita diam saja.

Saya bekerja di pedalaman hutan Sumatera dan setiap hari bisa menyaksikan belasan anak putus sekolah. Lembaga tempat saya bekerja, yang mengelola hutan dataran rendah di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan, mendirikan sekolah bagi anak-anak ini yang disebut Sekolah Besamo.


Beruntung, sekolah itu sudah diakui sebagai kelas jauh sebuah SD negeri, walau honor bagi guru-gurunya tidak pernah diberi oleh pemerintah –entah dikorupsi, entah dikemanain.  Jadi guru-gurunya digaji oleh manajemen Hutan Harapan, nama kawasan hutan tempat saya bekerja itu.

Permasalahan utama sekolah ini adalah muridnya yang kerap menyusut. Kenapa bisa? Murid-murid Sekolah Besamo adalah anak-anak suku pedalaman Batin Sembilan, dimana orang tua mereka menerapkan pola hidup food gathering, belum food production, untuk bertahan hidup.

Karena food gathering, mereka sangat bergantung pada hutan –mereka berburu, mencari rotan, jernang, getah damar, atau madu sialang, yang tidak memungkinkan bagi mereka untuk menetap.

Kalau pun ada di antara mereka yang berladang, polanya peladangan berpindah. Selesai satu musim tanam padi di suatu tempat, mereka mencari tempat lain yang lebih banyak hasil hutannya.

Lembaga tempat saya bekerja mencoba membangun pemukiman bagi mereka, tetapi tetap saja pola semi-nomadic masih melekat. Untuk mencari hasil hutan, mereka harus sering keluar masuk hutan dan karena itu anak-anak mereka juga harus ikut, yang tentu saja membuat mereka harus putus sekolah.

Di Rumah Tinggi, di pedalaman Kapas Tengah, kawasan Hutan Harapan wilayah Sumsel, belum lama saya menemukan 13 anak usia sekolah putus sekolah dasar. Dua  di antara mereka gadis 14 dan 15 tahun yang manis-manis.


Guru bagi anak-anak Batin Sembilan ini pernah menawarkan solusi sekolah alam dengan cara mendatangi para anak-anak usia sekolah itu ke pondok-pondok pemukiman sementara orang tua mereka di dalam hutan. Ini artinya, kemana pun mereka berpindah, “diuber”.

Namun, cara ini tidak efisien dari segi dana. Lagian menguber anak-anak pedalaman untuk diajak belajar sudah barang tentu tak semudah mengajar di full day school.

Nah, dalam konteks inilah saya meminta stop (dulu/saja) diskusi full day school. Lebih baik kita mendorong negara hadir bagi anak-anak pedalaman ini. Ambil mereka atau datangi mereka: berikan pendidikan dasar yang layak. Atau kirim guru-guru yang baik untuk mendidik anak-anak itu dari satu rumpok ke rumpok yang lain.

Beri guru-guru pedalaman itu gaji yang layak dan manusiawi, bahkan, berikan insentif bagi pahlawan tanpa tanda jasa tersebut. Ini saja dulu.(*)

Foto-foto oleh: Wahdi Septiawan dan Ardi Wijaya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s