Tentang “Berita Angkat Telur” dan “Berita Duit”

journalist-985077_960_720_web

foto by pixabay.com

Dua istilah dalam judul tulisan ini memang memakai tanda kutip. Kalau tidak memakai tanda kutip, saya khawatir maknanya menjadi berita tentang telur dan berita tentang duit. Padahal yang saya maksud bukan itu. Untuk frasa “berita duit”, misalnya, yang saya maksud adalah “berita yang berbau duit”. Nah, saya kasih tanda kutip lagi karena takutnya akan bermakna bau beneran. Tahu kan bau duit seperti apa? Pernah kan mencium bau duit? Nah, bukan itu maksud saya.

“Berita ngangkat telok” dan “berita duit” adalah dua istilah berasosiasi negatif yang akrab dengan kalangan media di Jambi. Telok dalam bahasa daerah ini berarti telur. “Berita angkat telok” bukanlah berita tentang seorang pesohor atau kelompok pesohor mengangkat telur, bukan pula tentang lomba mengangkat telur pada 17 Agustus untuk memecahkan rekor Muri.
Baca lebih lanjut

Makar Media

(Tulisan ini pernah dimuat di JambiBisa.com, November 2015)

Ada istilah baru –setidaknya bagi saya karena ini pertama kali saya mendengarnya– yang menculik pikiran saya sejenak beberapa hari lalu. Itulah “makar media”. Saya sebut “menculik” karena saya langsung dipaksa meninggalkan pekerjaan yang menumpuk untuk mencari tahu dan menulis kolom ini.

Entah karena pintar menciptakan istilah atau karena jengkelnya kepada media atau karena terlalu berapi-api, seorang orator unjuk rasa buruh di Istana Negara pada 28 Oktober lalu menuding media-media arus utama  telah berbuat makar (terhadap buruh). “Ini makar dari media mainstream. Mereka terlihat tidak ada yang meliput kita. Biasanya ada mobil-mobil stasiun televisi nongkrong dekat sini.”  Begitu pernyataannya seperti dikutip portal berita NBC Indonesia, Kamis (28/10).

Katanya, makar oleh media mainstream tidak akan pernah berhasil karena Allah yang maha sebaik-baiknya pembuat makar yang akan menang. Awalnya saya agak merasa lucu dengan istilah makar media itu. Tetapi setelah membaca habis beritanya, saya berempati juga.

Baca lebih lanjut

Kesalnya bila Dapat Novel Rusak

IMG00281-20130331-2053

Sudah beberapa bulan ini saya kembali menggandrungi buku-buku lama semisal buah tangan Agatha Christie dan Sir Arthur Conan Doyle. Baik yang sudah pernah saya baca di waktu muda, maupun yang belum sama sekali. Baik yang pernah saya beli –yang sekarang entah di mana bukunya—maupun yang saya baca di sejumlah perpustakaan.

Sebagian besar yang ingin saya baca memang adalah kisah-kisah detektif, sekadar menapak tilas perjalanan Miss Marple, Sherlock Holmes atau Hercule Poirot. Tetapi, terkadang saya juga membeli buku-buku klasik dengan kisah klasik pula, semisal histrorical romance What Happens in London karangan Julia Quinn. Buku-buku seperti ini sebenarnya adalah “makanan” sehari-hari saya semasa kuliah di akademi bahasa asing dulu di Padang. Dan buku-buku tersebut kebetulan memang lagi ramai dicetak dan diterbitkan ulang oleh Gramedia. Baca lebih lanjut

Hok Lo Pan is Martabak Bangka

Iya, baru saya tahu.

Ceritanya, baru beberapa halaman baca buku keempatnya Andrea Hirata, Maryamah Karpov, saya menemukan kata hok lo pan. Menurut Andrea, ini kue yang bisa membuat orang lupa mertua saking enaknya. Baunya saja, hmm…, mengalir sepanjang sungai. Tapi segera saya melupakan saja kue itu. Tidak mengesankan, namanya pun terasa asing.

Nah, tadi siang, begitu buka-buka milis, saya bertemu satu artikel tentang hok lo pan-nya Andrea Hirata itu. Si penulis mengatakan bahwa di berbagai kamus, seperti KBBI, ternyata terminologi itu tidak bisa ditemukan. Ia menyarankan untuk mencari arti hok lo pan lewat Paman Google.

And, Paman Google says:

tabak Baca lebih lanjut

Awal Mula Menulis Kreatif

Otak manusia, selain terdiri dari otak kecil dan otak besar, juga ada otak kiri dan otak kanan. Kedua otak yang disebut terakhir sangat bermanfaat sebagai pencetus hal-hal baru di dunia sekaligus pengatur irama kehidupan. Karena itulah kehidupan menjadi berwarna-warni, ada melodi dan harmoninya.

Ulah Otak Kiri

Ini otak yang sering ngatur, suka menyaring informasi berdasarkan pranata-pranata, etika, regulasi dan lain sebagainya. Bila otak kiri itu kaya ilmu, ia cerewet juga. Bila kita hendak menulis lalu tiba-tiba terlintas pikiran, “Ah, malu, ah, nulis begini,” ini kerja otak kiri. Bila Anda penulis pemula, maka sudah berhenti sampai di situlah. Satu kreativitas terbunuh. Baca lebih lanjut