Kesalnya bila Dapat Novel Rusak

IMG00281-20130331-2053

Sudah beberapa bulan ini saya kembali menggandrungi buku-buku lama semisal buah tangan Agatha Christie dan Sir Arthur Conan Doyle. Baik yang sudah pernah saya baca di waktu muda, maupun yang belum sama sekali. Baik yang pernah saya beli –yang sekarang entah di mana bukunya—maupun yang saya baca di sejumlah perpustakaan.

Sebagian besar yang ingin saya baca memang adalah kisah-kisah detektif, sekadar menapak tilas perjalanan Miss Marple, Sherlock Holmes atau Hercule Poirot. Tetapi, terkadang saya juga membeli buku-buku klasik dengan kisah klasik pula, semisal histrorical romance What Happens in London karangan Julia Quinn. Buku-buku seperti ini sebenarnya adalah “makanan” sehari-hari saya semasa kuliah di akademi bahasa asing dulu di Padang. Dan buku-buku tersebut kebetulan memang lagi ramai dicetak dan diterbitkan ulang oleh Gramedia. Baca lebih lanjut

Iklan

Anak-anak Bung Karno, Siapa Ingat Bengkulu?

Bung Karno bersama Fatmawati dan Guntur. Dalam caption disebutkan bahwa Fatmawati isteri kedua.

Bung Karno bersama Fatmawati dan Guntur. Dalam caption (keterangan foto) berbahasa Inggris itu disebutkan bahwa Fatmawati isteri kedua. Sumber foto: Wikipedia

Hanya beberapa jam setelah matahari 2009 nongol di langit Indonesia pada 1 Januari lalu, aku dan beberapa rekan berada dalam perjalanan ke Bengkulu. Selepas Sarolangun (Jambi) dan Lubuk Linggau (Sumsel), di antara gerimis kami melintasi dinginnya kawasan pertanian di Rejang Lebong dan Kepahiang.

Nyaman sekali rasanya melintasi jalan-jalan berliku dan berhutan di punggung Bukit Barisan itu. Sejuk dan adem, seperti berada di kaki Gunung Kerinci, tempat kelahiranku. Selepas senja kami memasuki Bengkulu, kota kelahiran Fatmawati, isteri ketiga Bung Karno (BK).

Bincang-bincang soal BK, kami sempat mampir ke rumah yang ia diami semasa diasingkan pada kurun waktu 1938-1942. Kagum aku melihat kecantikan Fatmawati muda dalam foto bersama Bung Karno dan isteri keduanya, Inggit Garnasih. Ibu Negara RI pertama itu tampak menggemaskan. Baca lebih lanjut

Wartawan Segigih Jozeph Pulitzer?

Tahu siapa Joseph Pulitzer? Menurut saya, setiap wartawan semestinya tahu –atau minimal pernah baca sekilas—tentang tokoh satu ini. Saya nukilkan sedikit kisahnya untuk wartawan pemula. Semoga Anda termotivasi menjadi wartawan yang baik dari kisah wartawan yang namanya diabadikan sebagai nama penghargaan paling bergengsi di AS itu: Pulitzer Prizes.

Wartawan Magang

pulitzerJoseph Pulitzer baru berusia 21 tahun ketika dia menjadi wartawan magang di koran berbahasa Jerman, Westliche Post, terbit di St. Louis, AS. Ini kisah tentang ujian di hari pertama ia bekerja. Oleh redakturnya, suatu pagi Pulitzer diperintahkan meliput berita pencurian di sebuah toko buku.

Kepada Pulitzer, redaktur itu berpesan agar menemui Peters untuk meminta cerita menarik tentang pencurian itu. Kata sang redaktur, jangan mencari cerita sendiri karena Pulitzer tak bakal bisa. Di St.  Louis kala itu (1866), berita dari polisi untuk para wartawan hanya disebar lewat seorang koordinator wartawan. Ya, si Peters  itulah orangnya. Maka…. Baca lebih lanjut

Mengagumi Negeri Danau-danau

danau-danau.gif

Pernah berwisata ke enam danau di dua provinsi dalam satu hari? Membaca postingan ini, Anda mungkin bisa melakukannya.

Ini salah satu keunikan –eh, unik tidak ya?—perjalanan mudik Lebaran kami tahun ini. Kami melintas di jalur yang dihuni –lha kok dihuni?—enam danau. Mulai dari Danau Kerinci di Provinsi Jambi sampai ke Danau Maninjau di Sumatera Barat. Baca lebih lanjut

Ingusan dan Cabe-Tomat

tomat-be.gif

Bagi keluargaku, hari raya kali ini memang lebih raya. Seluruh cucu (kecuali satu), anak dan menantu kumpul di rumah ortu pas hari “H” –kami salat Idul Fitri pada Sabtu (13/10).

Ini pertama kali kami bisa kumpul semua setelah bertahun-tahun aku, adik dan kakak melewati masa remaja. Maklum, kami mencari hidup di mana-mana, di berbagai kota. Ada 10 cucu (sembilan yang kumpul), enam anak dan lima menantu. Baca lebih lanjut