Boro-boro Full Day, di Sini Muridnya Diuber Masuk Hutan

Maunya saya soal full-day school itu tidak usah diperdebatkan (dulu). Lebih baik mana, diskusi soal full day atau tidak full day sementara di pedalaman masih banyak anak yang tidak terjamah pendidikan sama sekali?

Kenapa menurut saya full day school itu tidak usah didiskusikan? Anak-anak saya bersekolah di sekolah yang sejak lama full day. Kelas satu saja sudah berada di sekolah sampai pukul 13.30. Hati-hati, ya, frasa saya adalah “berada di sekolah”, bukan “dicekoki pelajaran”. (Saya sangat khawatir ada haters yang membelokkan kata-kata saya). Anak saya yang kelas lima “berada di sekolah” sampai pukul empat sore. Saya tidak keberatan walau dalam kenyataannya biaya sekolahnya relatif mahal. Saya puas.

Sekolahnya masuk ke dalam Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT). Selain mata pelajaran berbasis kurikulum nasional, sekolah ini mengajarkan anak-anak membaca dan menghafal Alquran serta beribadah secara intensif.

Baca lebih lanjut

Iklan

Ini Oktober 2015

(Tulisan ini pernah dimuat di JambiBisa.com, Oktober 2015)

Saya menandai bulan ini dengan baik. Inilah bulan di mana kabut asap dengan indeks standar pencemaran udara (ISPU) mencapai level sangat berbahaya, seringkali di atas 500. Inilah bulan di mana kebakaran lahan dan hutan tak jua berhenti, terjadi sejak dua bulan lalu, tetapi Pj Gubernur Jambi Irman –pengganti sementara gubernur sebelumnya yang mencalonkan diri lagi– pernah menganggap ini hal yang amat remeh dan sepele.

Inilah bulan dimana ekonomi Indonesia memburuk, dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar masih di atas Rp 13.000. Pada bulan sebelumnya bahkan selalu di atas Rp 14.000. Inilah bulan di mana pemecatan alias PHK alias pemutusan hubungan kerja terjadi di mana-mana, tetapi pernah dibantah oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Baca lebih lanjut