Dari Sheldon ke Dan Brown

Walaupun menyukai buku-buku Sidney Sheldon, aku tidak pernah benar-benar terkesan dengan ceritanya karena tak satu pun yang masih kuingat sampai sekarang, termasuk novelnya yang terakhir (sekitar tiga bulan lalu) aku baca, Tell Me Your Dreams –aku baca versi bahasa Indonesia, tentu. Hanya saja, dari sekian banyak penulis cerita asing –di luar komik dan bacaan anak-anak lainnya– hanya Sidney Sheldon yang pernah benar-benar aku cari bukunya dan aku beli. Waktu itu aku di bangku SMA. Judulnya: The Sands of Time –judul ini aku ingat kembali belakangan usai berkunjung ke bapak yang satu ini.

Aku tidak begitu ingat kenapa aku membelinya –entah karena baca cerber di Kompas atau karena sandiwara radio (waktu itu RRI) yang kuingat judulnya Bulir-bulir Pasir di Laut. Yang jelas, aku sudah lupa isi cerita The Sands of Time itu seperti aku juga melupakan judul bahasa Indonesianya. So, ini yang tidak aku lupa: Novel pertama yang aku beli dengan uang jajanku adalah karangan Sheldon. Aku mengenang buku itu seperti aku mengenang Tenggelamnya Kapal van Der Wijck, cerita berbobot pertama kali yang aku baca sampai tuntas saat aku masih SMP.Aku menyukai buku sejak lama. Saat SD, aku lahap sekali membaca, mulai dari kisah tentang Zorro, Sinbad, sampai ke petualangan Winnetou dan Old Shatterhand. Aku lupa siapa yang nulis Zorro dan Sinbad, tapi aku ingat Karl May, yang menulis cerita tentang dua nama terakhir itu. Ketika SMP aku mengenal karya Hamka dan sastrawan lainnya. Tapi, buku-buku mereka tidak pernah aku beli, selalu pinjaman pustaka, teman, atau dapat main comot dari berbagai tempat.

Lompat cerita, sejak kuliah sampai tamat aku tak pernah lagi beli buku Sheldon. Aku lebih tertarik pada John Grisham, JK Rowling atau –yang terakhir naik daun– Dan Brown. Jujur, aku mengenalnya lewat The Da Vinci Code. Namun, setelah membaca kembali tentang Sheldon di sini aku berniat membeli buku yang ini: The Other Side of Me. Mungkin, sebelum tutup usia pada 30 Januari lalu, dia meninggalkan sesuatu untuk aku pelajari agar bisa menjadi penulis terkenal seperti dia. Ada yang mau kirimi aku buku itu?

Iklan

In Memoriam Mahtum Mastoem

Gugur, Hati yang Meluruhkan

Selamat jalan, istirahlah, Bapak
kami pernah melukaimu, suatu waktu
di saat siang menggerahkan;
ruang luangmu tersita percuma di meja,
tapi kau tersenyum, meluruhkan;
bibir yang diam, hati menyapa
Selamat jalan, menuju jalan itu, Bapak
adakah doa kami menghangatkan?

(puisi oleh J. Rizal)

Mahtum, Tokoh Pers Itu Telah Tiada

DUNIA pers Indonesia kembali kehilangan salah seorang putra terbaiknya. Wartawan senior, tokoh pers sekaligus pemilik sejumlah surat kabar di Indonesia H Mahtum Mastoem SE MM meninggal dunia di Rumah Sakit Cikini, Jumat (3/11) pada pukul 04.30 akibat serangan jantung.

lmarhum yang juga menjabat Direktur Jambi Independent ini meninggal di usia 57 tahun. Beliau meninggalkan seorang istri Nuryetti dan empat orang putra Novie Nurmarina, Dwi Nurmawan, Isni Nurmarisa dan Rendy Nurmayanto. Jenazah H Mahtum dimakamkan di TPU Al-Kamal Kedoya Jakarta pukul 13.30 usai Salat Jumat.

Sejumlah tokoh pers nasional seperti Goenawan Moehamad, Jacob Utama, Syafik Umar, dan lainnya hadir dalam pemakaman yang digelar khidmat itu. Mereka memberikan prakata dan kesan terakhir terhadap almarhum baik sebagai rekan, teman seprofesi maupun sahabat seperjuangan.

Almarhum masuk Rumah Sakit Cikini pada Selasa (31/10) siang sekitar pukul 12.00. Saat masuk RS Cikini, almarhum yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) pusat ini langsung dirawat intensif di ICU. Serangan jantung yang dialami almarhum termasuk mendadak. Selasa pagi, sekitar pukul 08.00 H Mahtum masih terlihat segar. Karena beliau hendak memberikan ceramah “Bisnis Pers” di Harian Umum Sinar Harapan.

Nah, usai memberikan ceramah, rupanya kondisinya mulai drop, bahkan sempat tak sadarkan diri. Saat itu juga langsung dibawa ke RS Cikini. Rupanya, kondisi jantung pria kelahiran Bumiayu 4 Agustus 1949 ini semakin parah, sehingga pada Jumat pagi Tuhan memanggilnya.

Di kalangan karyawan Jambi Independent, Mahtum dikenal sebagai sosok pemimpin yang berpembawaan tenang dan lekas akrab dengan para bawahannya. “Beliau memimpin dengan hati. Saat memimpin pun, beliau berbahasa seperti sahabat,” ujar General Manager/Pemimpin Redaksi Jambi Independent Ali Fauzi yang kemarin juga menghadiri pemakaman H Mahtum.

Sebagian besar hidup H Mahtum bisa dibilang didedikasikan demi kemajuan bisnis pers. Sejak usia 19 tahun, tepatnya tahun 1968, Mahtum sudah menjadi seorang wartawan di Harian Pelopor, sebuah surat kabar terbitan Jogjakarta.

Ini membuktikan bahwa kegigihannya dalam meraih kesuksesan patut diteladani. Setahun hasil tempaan Pelopor, Mahtum muda mulai merantau di Jakarta. Setelah diterima sebagai wartawan mingguan Gema Pertiwi, dia sempat jadi reporter mingguan Siaga lalu majalah Djaja.

Karirnya terbilang cepat. Setelah serangkaian media penerbitan tempat dia bekerja, pada akhir 1971-1994, karirnya menjadi melejit setelah majalah Tempo mengangkatnya sebagai wakil direktur. Pada saat yang hampir bersamaan H Mahtum juga memegang kendali sebagai pemimpin perusahaan di majalah Matra dan direktur di majalah Gamma.

Serangkaian pengalaman itu yang membuatnya mantap saat mendirikan berbagai media penerbitan, khususnya yang berbasis Radar. Itu setelah beliau bergabung dalam Wahana Semesta Merdeka (WSM) Grup.

Menariknya, penerbitan yang jumlahnya sekitar 25 koran dan tabloid itu sebagian besar sukses. Mungkin karena basic-nya di perusahaan, beliau paham betul seluk beluk bisnis pers di Indonesia. Selain itu, ketekunan, ketelitian, dan kesabarannya turut mendukung dia menjadi tokoh pers yang besar.(jpnn)

Riwayat Hidup

Nama: H Mahtoem Mastoem SE MM
Lahir: Bumiayu, Jawa Tengah, 4 Agustus 1949
Jenis Kelamin: Laki-laki
Status: Menikah dengan 4 anak
Orang Tua: Ma’muri Masrtosudyo (ayah) dan Maemunah (ibu)
Saudara: Sukasno Martosudyo
Istri: Nuryetty
Anak:
1. Novie Nurmarina
2. Dwi Nurmawan
3. Isni Nurmarisa
4. Rendy Nurmayanto
Agama: Islam
Perusahaan: PT Wahana Semesta Merdeka
Jabatan: Direktur PT Wahana Semesta Merdeka Group

Pendidikan:
– Sekolah Rakyat Negeri Bumiayu, 1956-1962
– Sekolah Menengah Pertama Negeri I Jogja: 1962–1965
– Sekolah Teknologi Menengah Atas Negeri Jogja: 1965– 1968
– Pendidikan Periklanan Jakarta: 1976–1978
– Fakultas Sosial Ekonomi & Politik Univ Nasional dan
– Sekolah Tinggi Manajemen LABORA, Jakarta (1991, S1)
– Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi OTC (MBA)
– Sekolah Tinggi Manajemen LABORA Jakarta (2000, S2)

Pengalaman Kerja:
1968 : Wartawan Harian Pelopor, Jogja
1969 : Wartawan Mingguan Gema Pertiwi, Jakarta
1970 : Wartawan Mingguan Siaga, Jakarta
1971 : Wartawan Majalah Djaja, Jakarta
1971-1994 : Wakil Direktur Majalah Tempo
1986-2000 : Direktur/Pimpinan Perusahaan Majalah Matra
1994-1998 : Direktur/Pimpinan Perusahaan Majalah GAMMA
1995-sekarang :
Group Penerbitan Pers PT WSM (Group Rakyat Merdeka, Harian Sumatera Ekspres, Palembang Pos, Radar Palembang, Tabloid Monica, Linggau Pos, Bangka Belitung Pos, Rakyat Bengkulu, Jambi Ekspres, Jambi Independent, Pos Metro Jambi, Radar Lampung, Rakyat Lampung, Radar Banten, Sinar Glodok, Radar Cirebon, Radar Tegal, Radar Pekalongan, Radar Banyumas, Radar Tasikmalaya, Berita Indonesia Hongkong)

Pengalaman dalam bidang periklanan/pemasaran/penerbitan:
1. Mengikuti Seminar/Kongres Periklanan Ad Asia/ IAA sejak 1981, a.l: Bangkok, Singapore, Manila, New Delhi, Seoul, Tokyo, Chicago, Barcelona.
2. Mengikuti Kongres Penerbitan (FIE/WAN-World Association of Newspaper) di Austria, Hongkong, dll.
3. Memberikan ceramah periklanan/pemasaran pada penataran-penataran SPS, kampus dan seminar-seminar.
4. Memberikan Ceramah Manajemen Penerbitan Pers di berbagai kota di seluruh Indonesia.

Pengalaman Organisasi:
– Badan Periklanan Media Pers Nasional (BPMN-SPS) 1987–199 sebagai ketua pelaksana
– Pendiri dan Ketua Grup Studi Periklanan (GSP), 1979
– Pendiri dan Koordinator Kelompok Praktisi Komunikasi (KOMPAK), 1993
– Anggota Badan Pendiri dan Pengurus Yayasan Teknologi Komunikasi Pemasaran (penyelenggara ITKP dan STIKOM YTKP Plus).
– Anggota Juri Creative Award, Ad Asia 91 Singapore
– Ketua (Co-Chairman) Ad Asia 95 (Kongres Periklanan Asia) Bali
– Ketua Bidang Dana Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-13, 1993
– Vice President Indonesia Marketing Association (IMA), 1998–2004
– Ketua Himpunan Alumni STMA/SMTI (HASTMA-SMTI 2003–2007)
– Wakil Ketua Kompartemen Promosi KADIN Pusat, 1999–2004
– Ketua Bidang Pendidikan Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) Pusat, 1999–2003
– Ketua Pelaksana Harian Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) Pusat, 2003–2007

Motto Hidup:
Menyenangkan orang dan mensyukuri nikmat apapun dari Allah SWT

eka and erni, be strong!

selalu ada yang datang dan pergi. seorang teman, pasangan baru, berduka. kami pun berduka. seorang anak yang diberi nama maritza meninggal dunia hanya 19 jam setelah ia dilahirkan ibunya ke dunia. lahir senin (11/9) pukul 03.55, wafat pun senin 22.50. you don’t have to be in sadness, friends. you don’t have to be alone all the times. you two have chances to have other ones. be patient, be strong, be motivated to stay alive dan always….

ashes to ashes, dust to dust. tiada yang abadi di dunia ini.

just for you, dari eric clapton. bukan untuk menambah kesedihan, but to know that anything could happen to anyone…
Tears In Heaven
by Eric Clapton and Will Jennings

Would you know my name
If I saw you in heaven?
Would it be the same
If I saw you in heaven?

I must be strong
And carry on,
‘Cause I know I don’t belong
Here in heaven.

Would you hold my hand
If I saw you in heaven?
Would you help me stand
If I saw you in heaven?

I’ll find my way
Through night and day,
‘Cause I know I just can’t stay
Here in heaven.

Time can bring you down,
Time can bend your knees.
Time can break your heart,
Have you begging please, begging please.

Beyond the door,
There’s peace I’m sure,
And I know there’ll be no more
Tears in heaven.

Would you know my name
If I saw you in heaven?
Would it be the same
If I saw you in heaven?

I must be strong
And carry on,
‘Cause I know I don’t belong
Here in heaven.
—–