Makar Media

(Tulisan ini pernah dimuat di JambiBisa.com, November 2015)

Ada istilah baru –setidaknya bagi saya karena ini pertama kali saya mendengarnya– yang menculik pikiran saya sejenak beberapa hari lalu. Itulah “makar media”. Saya sebut “menculik” karena saya langsung dipaksa meninggalkan pekerjaan yang menumpuk untuk mencari tahu dan menulis kolom ini.

Entah karena pintar menciptakan istilah atau karena jengkelnya kepada media atau karena terlalu berapi-api, seorang orator unjuk rasa buruh di Istana Negara pada 28 Oktober lalu menuding media-media arus utama  telah berbuat makar (terhadap buruh). “Ini makar dari media mainstream. Mereka terlihat tidak ada yang meliput kita. Biasanya ada mobil-mobil stasiun televisi nongkrong dekat sini.”  Begitu pernyataannya seperti dikutip portal berita NBC Indonesia, Kamis (28/10).

Katanya, makar oleh media mainstream tidak akan pernah berhasil karena Allah yang maha sebaik-baiknya pembuat makar yang akan menang. Awalnya saya agak merasa lucu dengan istilah makar media itu. Tetapi setelah membaca habis beritanya, saya berempati juga.

Baca lebih lanjut

Iklan

Salut, Tukang Survei!

sby

Salut! Para tukang survei itu benar-benar ikut memenangkan SBY-Boediono dengan cara yang elegan. Mereka mencitrakan kemenangan SBY jauh sebelum masa kampanye dimulai sampai ke hari-H pencontengan.

Terakhir, mereka ramai-ramai merilis quick count yang menempatkan SBY unggul dengan menguasai sekitar 60 persen suara.  Padahal, penghitungan oleh KPU masih berjalan. Mereka berani menjamin, hasil itu tak akan meleset jauh.

So, tak ada alasan lagi menolak kemenangan SBY itu –walaupun baru quick count alias hitungan cepat. Seperti pemilu-pemilu sebelumnya, quick count itu tak meleset jauh dari hasil hitung manual. Baca lebih lanjut