Kesalnya bila Dapat Novel Rusak

IMG00281-20130331-2053

Sudah beberapa bulan ini saya kembali menggandrungi buku-buku lama semisal buah tangan Agatha Christie dan Sir Arthur Conan Doyle. Baik yang sudah pernah saya baca di waktu muda, maupun yang belum sama sekali. Baik yang pernah saya beli –yang sekarang entah di mana bukunya—maupun yang saya baca di sejumlah perpustakaan.

Sebagian besar yang ingin saya baca memang adalah kisah-kisah detektif, sekadar menapak tilas perjalanan Miss Marple, Sherlock Holmes atau Hercule Poirot. Tetapi, terkadang saya juga membeli buku-buku klasik dengan kisah klasik pula, semisal histrorical romance What Happens in London karangan Julia Quinn. Buku-buku seperti ini sebenarnya adalah “makanan” sehari-hari saya semasa kuliah di akademi bahasa asing dulu di Padang. Dan buku-buku tersebut kebetulan memang lagi ramai dicetak dan diterbitkan ulang oleh Gramedia. Baca lebih lanjut

Salut, Tukang Survei!

sby

Salut! Para tukang survei itu benar-benar ikut memenangkan SBY-Boediono dengan cara yang elegan. Mereka mencitrakan kemenangan SBY jauh sebelum masa kampanye dimulai sampai ke hari-H pencontengan.

Terakhir, mereka ramai-ramai merilis quick count yang menempatkan SBY unggul dengan menguasai sekitar 60 persen suara.  Padahal, penghitungan oleh KPU masih berjalan. Mereka berani menjamin, hasil itu tak akan meleset jauh.

So, tak ada alasan lagi menolak kemenangan SBY itu –walaupun baru quick count alias hitungan cepat. Seperti pemilu-pemilu sebelumnya, quick count itu tak meleset jauh dari hasil hitung manual. Baca lebih lanjut

Presiden yang Membanggakan

capresKarena alasan tertentu, saya pribadi mendukung Jusuf Kalla (JK) menjadi Presiden RI untuk periode lima tahun ke depan. Saya dan Kalla sama-sama berasal dari luar Jawa. Apa pun untung dan ruginya dari pertalian itu, memiliki orang luar Jawa sebagai Presiden RI adalah kebanggaan tersendiri bagi saya. Hanya karena rasa bangga saja?

Tidak. Saya suka sikap JK yang terbuka, seperti apa adanya dirinya. Lincah, tak dibuat-buat, berpikir realistis dan pandai berargumen. Tegas juga, punya sikap dan bersahaja. Tampak sekali dia banyak menimba ilmu dari pengalaman langsung, bukan teori belaka.

Saya kecewa dengan SBY. Tetapi, bila Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang memenangkan pemilihan presiden yang dihelat pagi ini, saya juga harus menerimanya. Itulah demokrasi. Dan, begitulah politik. Harus diakui, popularitas SBY masih tinggi –yang otomatis menaikkan elektabilitasnya. Satu hal lagi, dia masih tampak bersih. Baca lebih lanjut

Anak-anak Bung Karno, Siapa Ingat Bengkulu?

Bung Karno bersama Fatmawati dan Guntur. Dalam caption disebutkan bahwa Fatmawati isteri kedua.

Bung Karno bersama Fatmawati dan Guntur. Dalam caption (keterangan foto) berbahasa Inggris itu disebutkan bahwa Fatmawati isteri kedua. Sumber foto: Wikipedia

Hanya beberapa jam setelah matahari 2009 nongol di langit Indonesia pada 1 Januari lalu, aku dan beberapa rekan berada dalam perjalanan ke Bengkulu. Selepas Sarolangun (Jambi) dan Lubuk Linggau (Sumsel), di antara gerimis kami melintasi dinginnya kawasan pertanian di Rejang Lebong dan Kepahiang.

Nyaman sekali rasanya melintasi jalan-jalan berliku dan berhutan di punggung Bukit Barisan itu. Sejuk dan adem, seperti berada di kaki Gunung Kerinci, tempat kelahiranku. Selepas senja kami memasuki Bengkulu, kota kelahiran Fatmawati, isteri ketiga Bung Karno (BK).

Bincang-bincang soal BK, kami sempat mampir ke rumah yang ia diami semasa diasingkan pada kurun waktu 1938-1942. Kagum aku melihat kecantikan Fatmawati muda dalam foto bersama Bung Karno dan isteri keduanya, Inggit Garnasih. Ibu Negara RI pertama itu tampak menggemaskan. Baca lebih lanjut